Breaking News

Lima Bulan 240 Kali Penembakan Massal dan 18.500 Tewas, Kenapa Miliki Senjata di AS Legal?

Salah satu toko penjual senjata api di Amerika Serikat. Foto: AFP

WELFARE.id-Kasus penembakan kembali terjadi di Amerika Serikat (AS). Kasus penembakan massal terus berulang di Negeri Paman Sam tersebut. Insiden terakhir terjadi di sebuah klub malam di Chattanooga, Tennessee, Minggu (5/6/2022) waktu setempat.

Sedikitnya tiga orang tewas dan 14 orang lainnya luka-luka dalam insiden penembakan massal itu.  Kepala kepolisian wilayah Chattanooga, Celeste Murphy mengatakan kepada wartawan bahwa dua korban tewas di lokasi kejadian akibat luka tembak.

Penembakan massal memang mengguncang AS selama beberapa minggu terakhir. Sehari sebelumnya, Sabtu (4/6/2022) terjadi penembakan di Philadelphia, Pennsylvania. Sedikitnya 3 orang tewas dan 11 orang luka-luka akibat insiden penembakan massal ini.

Pada bulan lalu juga telah terjadi penembakan massal di sebuah sekolah dasar di Uvalde, Texas yang menewaskan 19 siswa dan dua guru. Diketahui, pelakunya adalah seorang remaja berusia 18 tahun.

Menurut data yang dirilis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), senjata api menjadi penyebab utama kematian anak-anak dan remaja AS pada tahun 2020. Seperti dikutip dari BBC, jumlah korban tewas akibat senjata api menyalip jumlah kasus yang disebabkan kecelakaan mobil.

Sebuah laporan FBI juga menemukan bahwa serangan penembakan massal telah berlipat ganda sejak pandemi Corona pada 2020 lalu. Di AS sudah terjadi 240 penembakan massal di selama lima bulan terakhir dengan lebih 18.500 orang tewas. 

Melonjaknya kasus kekerasan senjata di AS sebenarnya menjadi seruan baru untuk amandemen undang-undang kepemilikan senjata yang lebih ketat di negara itu. 

Sebagaimana diketahui, selama ini warga AS memiliki kebebasan pada kepemilikan senjata. Hak memiliki senjata di AS sendiri dilindungi oleh Amandemen ke-2 UUD AS yang disahkan pada tahun 1791.

Saat ini, di AS beredar hampir 400 juta unit senjata api yang dimiliki oleh polisi, militer, hingga warga sipil. Parahnya lagi, sebanyak 393 juta unit senjata atau lebih dari 98 persen  berada di tangan warga sipil. 

Angka ini setara dengan 120 senjata api per 100 warga negara. Angka yang tinggi ini didukung aturan dan kemudahan dalam mengakses senjata. Pada 2020 saja, sekitar 40 juta senjata dibeli warga AS. Angka ini melonjak 40 persen dari 2019. 

Ketika 2019 lalu, senjata api yang dibeli masyarakat tercatat hanya 28 juta. Namun, jumlah itu dilaporkan lebih rendah dari penjualan sebenarnya karena berbagai undang-undang negara bagian dan skenario pembelian mungkin tak perlu memeriksa latar belakang pembeli.

Menurut Survei Senjata Api Nasional 2021 yang dirilis American Gun Facts, tercatat 32 persen warga AS memiliki senjata api secara pribadi. Artinya, lebih dari 81 juta penduduk memiliki senjata.

Adapun tipe senjata yang paling banyak dimiliki warga AS yakni pistol sebesar 82,7 persen, rifle 68,8 persen dan softgun 58,4 persen.

Untuk diketahui, senjata api yang beredar di kalangan sipil tak begitu saja menjalar secara liar. Usai meraih kemerdekaan, founding father AS mengabadikan hak warga Negeri Paman Sam atas senjata api dalam Amandemen Kedua. 

Semangat kebebasan individu itu lah yang disebut-sebut menjadi pemicu budaya senjata AS. AS juga punya aturan Gun Control Act of 1968 yang mengatur senjata api di tingkat federal. 

Dalam aturan ini, warga negara dan penduduk resmi yang berusia minimal 18 tahun harus membeli senjata atau senapan serta amunisi. Semangat liberalisme dan aturan itu mempermudah warga AS mengakses senjata.

Di sejumlah negara bagian seperti Texas dan Alabama, regulasi yang mengatur soal kepemilikan senjata pun kerap longgar terutama di level pengawasan.

Menanggapi penggunaan senjata api yang merajalela dan dianggap mengancam keamanan warga, AS pernah mencoba merancang undang-undang pembatasan senjata dan merevisi UU kepemilikan senjata.

Namun, rencana itu terkatung-katung karena politisi partai Republik masih pikir-pikir dan tak sepenuhnya setuju. Partai ini, diketahui, berisi kalangan elite dan pengusaha yang berkaitan dengan bisnis senjata.

Hingga kini aturan itu tak kunjung rampung. Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, sampai-sampai menyerukan pembatasan senjata baru.

"Sebagai bangsa, demi Tuhan kita harus bertanya, kapan kita akan melobi senjata? Kapan kita akan melakukan apa yang harus dilakukan? Mengapa kita rela hidup dengan pembantaian ini," kata Biden dalam pidatonya. (tim redaksi)


#amerikaserikat
#kepemilikansenjataapi
#penembakanmasal
#pembunuhan
#kontrolsenjata
#presidenamerikaserikat
#joebiden

Tidak ada komentar