Breaking News

Kualitas Udara Jakarta Terburuk di Dunia, Wagub DKI: Dampak Naiknya Volume Kendaraan

Pemandangan gedung bertingkat di salah satu kawasan di Ibu Kota Jakarta yang diselimuti asap, Senin (29/7/2019). Foto: Antara

WELFARE.id-Lembaga data kualitas udara, IQ Air menempatkan Jakarta pada posisi pertama sebagai kota dengan kualitas udara tidak sehat atau yang terburuk pada Rabu (15/6/2022).

IQ Air mencatat indeks kualitas udara di Ibu Kota Indonesia itu mencapai 188 atau masuk kategori tidak sehat pada pukul 11.00 WIB. Adapun kategori kualitas udara tidak sehat berada pada rentang indeks 151 hingga 200 berdasarkan IQ Air.

Udara Jakarta mengandung konsentrasi polutan Partikulat Matter (PM) 2,5 yang tercatat mencapai 25,4 kali di atas standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) sehingga membuat kualitas udara di Jakarta tergolong tidak sehat.

Dengan kualitas udara itu, IQ Air hingga pukul 12.00 WIB menempatkan Jakarta di posisi pertama kemudian disusul Dubai, Uni Emirat Arab dengan indeks mencapai 160 dan di posisi ketiga diisi oleh Kota Santiago di Chile mencapai indeks 158.

Sedangkan pada Kamis pagi (16/6/2022), kualitas udara menurun menjadi yang terburuk kedua di dunia. dari situs IQAir, data ranking kualitas udara itu dikumpulkan per pukul 10.24 WIB, Kamis (16/6/2022).

Sedangkan peringkat pertama kualitas udara terburuk di dunia ditempati Riyadh, Arab Saudi.  IQ Air atau indeks kualitas udara Jakarta berada pada angka 156 alias tidak sehat. Polutan utama yang ada di Jakarta saat ini ialah PM2.5.

"Konsentrasi PM2.5 di udara Jakarta saat ini 13,1 kali di atas nilai panduan kualitas udara tahunan WHO," tulis situs IQAir.

Data kualitas udara ini dikumpulkan IQ Air dari 16 kontributor, mulai stasiun pemerintah, yakni Kementerian LHK, BMKG, dan Kedubes AS. Selain itu, ada juga data yang dikumpulkan dari stasiun organisasi nirlaba, seperti Greenpeace hingga perusahaan.

Kualitas udara tidak sehat di Jakarta bukan yang pertama kali. Sebelumnya, IQ Air mencatat data kualitas udara Jakarta pada 2017 mengalami peningkatan dengan rata-rata mencapai 29,7 mikrogram per meter kubik.

Lalu, pada 2018 kualitas Jakarta berlipat ganda menjadi rata-rata 45,3 mikrogram per meter kubik dan pada 2019 kembali naik menjadi 49,4 mikrogram per meter kubik.

Kualitas udara di Jakarta rata-rata pada 2020 kemudian menurun menjadi 39,6 mikrogram per meter kubik seiring pembatasan kegiatan masyarakat karena pandemi COVID-19.

Menanggapi itu, Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menduga kualitas udara Ibu Kota yang kembali buruk akhir-akhir ini akibat naiknya volume kendaraan. Kehidupan di Jakarta sudah kembali normal.

"Memang Jakarta ini cukup padat. Kendaraan kembali normal, ada peningkatan polusi," terang Riza Patria di Balai Kota Jakarta, Kamis (16/6/2022).

Ia juga menjelaskan berbagai upaya terus digenjot untuk mendukung pengurangan polusi udara. "Ini menjadi perhatian, kami akan melakukan evaluasi untuk mengatasi masalah ini," katanya juga.

Salah satu upaya DKI dalam menekan polusi udara yakni mengarahkan masyarakat menggunakan transportasi umum. Selain itu, secara bertahap pihaknya mengganti armada Transjakarta menjadi menggunakan bahan bakar berbasis listrik.

Selain itu juga, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menargetkan hingga akhir 2022 ada 100 bus Transjakarta menggunakan listrik. Hingga saat ini bus elektrik Transjakarta sudah tersedia 30 unit. (tim redaksi)


#dkijakarta
#kualitasudara
#terburukdidunia
#pemprovdki
#iqair
#wagubdkijakarta
#ahmadrizapatria

Tidak ada komentar