Breaking News

Kompak, Saham dan Rupiah Diprediksi Menguat Hari ini

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (22/6/2022). Kemarin, IHSG ditutup di level 7.044,07 atau naik 67,69 poin sebesar 0,97 persen. 

Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan, pergerakan IHSG dibayangi oleh sentimen rilis suku bunga dari Bank Indonesia. Menurut dia, semakin mendekati momentum rilis tingkat suku bunga, pola pergerakan IHSG terlihat betah dalam rentang konsolidasi wajar dengan peluang kenaikan terbatas. 

"Kondisi perekonomian yang stabil ditambah dengan masih adanya emiten yang membagikan dividen turut menopang pola pergerakan IHSG hingga beberapa waktu mendatang, hari ini IHSG berpotensi menguat,” ujarnya. 

Analis Binartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, IHSG kemungkinan akan tetap menguat karena ditutup di atas Fibonacci retracement 61,8 persen dari wave, namun masih di bawah garis SMA-20. Berdasarkan indikator MACD, IHSG dalam kondisi netral. 

Namun ada peluang melanjutkan fase tren turun sebelumnya jika IHSG melemah di bawah support 6.950. Level support IHSG hari ini berada di 6.860, 6.795 dan 6.670, sementara level resistennya di 7.079, 7.106 dan 7.173,” tukasnya. 

Sementara itu, Founder WH Project William Hartanto mengungkapkan, setelah IHSG berhasil menembus resistance 7.025, mengkonfirmasi reversal, namun jika menggunakan trend line, arahnya akan sedikit di atas kisaran level 7.033–7.045. 

Sentimen window dressing juga mulai membayangi IHSH karena saat ini sudah mendekati akhir kuartal II di tahun 2022. 

“Kami melihat peluang ini cukup besar dan mungkin sudah terjadi, terlihat dari nilai transaksi yang menurun di saat IHSG menguat, hal ini berarti saham-saham penggerak indeks dinaikkan dengan tidak dilakukannya pembelian secara agresif. Kesimpulannya, kondisi masih rawan sejak adanya sentimen Fed rate, namun dalam jangka pendek terlihat potensi penguatan,” imbuhnya. 

Lalu, bagaimana dengan saham–saham yang bisa dicermati pada perdagangan hari ini? Simak rekomendasi saham teknikal dari tiga perusahaan sekuritas ini: 

1. Artha Sekuritas 

• ERAA entry level 500 - 510, TP 530 - 545, stop loss 490 

• MIKA entry level 2.800 – 2.850, TP 2.950 – 3.000, stop loss 2.770 

• BRPT entry level 740 - 760, TP 785 - 805, stop loss 730 

2. Pilarmas Investindo 

• ISAT last price 6.650, support 6.425, resistance 6.950 

• CPIN last price 5.325, support 5.125, resistance 5.550 

• BMHS last price 645, support 605, resistance 695, TP 530 - 670, Exit 580 – 650 

3. Binaartha Sekuritas 

• EMTK rekomendasi hold/ buy on weakness 1.550 – 1.650, TP 1.850. 

• EXCL rekomendasi hold/ take profit sebagian di 2.550 sebagai target harga terdekat. 

• BBRI rekomendasi hold/ buy on weakness pada rentang harga 6.750-6.900, TP 7.250.

Setali tiga uang, nilai tukar rupiah berpotensi menguat terhadap hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, meneruskan tren perdagangan sebelumnya. 

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup menguat tipis di rentang Rp14.790-Rp14.840 per dolar AS. 

Kemarin, rupiah ditutup naik 23,5 poin atau 0,16 persen ke level Rp14.812 per dolar AS. Indeks dolar di pasar spot tercatat melemah 0,58 persen ke level 104,09. 

Sementara itu, mata uang Asia lainnya ditutup bervariasi yakni yen Jepang yang melemah 0,11 persen, won Korea Selatan yang melemah 0,13 persen, yuan China yang melemah 0,06 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,04 persen. 

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar melemah terhadap mata uang lainnya di Selasa, (21/6/2022) karena investor mengawasi sikap dari bank sentral utama untuk mengekang inflasi. 

"Bank sentral utama mengambil tindakan untuk menjinakkan inflasi dan menaikkan suku bunga, menambah kekhawatiran investor tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi," tuturnya. 

Sementara itu, dari dalam negeri, Ibrahim menuturkan pelaku pasar mengapresiasi kinerja pemerintah tentang utang luar negeri yang menyusut di tengah banyak negara diambang kebangkrutan akibat konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan menjadikan harga komoditas melonjak. 

Dengan lonjakan harga tersebut maka Indonesia mendapatkan keuntungan dan berkah. Hal ini berimbas terhadap utang pemerintah yang semakin sehat disebabkan oleh penurunan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). "Hal tersebut tentu menjadi kabar baik, mengingat ke depan risiko akan melonjaknya utang menjadi sangat tinggi," katanya. 

Rasio utang terhadap PDB saat ini adalah 39 persen dengan nominal utang mencapai Rp7.040,32 triliun. Dengan penerimaan yang kuat dari lonjakan harga komoditas, rasio utang terhadap PDB telah turun 13 persen. (tim redaksi

#saham
#rekomendasisaham
#hargasahamhariini
#ihsg
#rupiah
#rupiahhariini

Tidak ada komentar