Breaking News

Kompak, Rupiah dan Saham Diprediksi Lanjutkan Pelemahan

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Mata uang rupiah berisiko tertekan ke Rp14.900 di tengah sentimen keputusan Bank Indonesia perihal kebijakan suku bunga pada hari ini, Kamis (23/6/2022). 

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah dibuka berfluktuatif pada perdagangan hari ini, tetapi berisiko ditutup melemah di rentang Rp14.850—Rp14.900 per dolar AS. 

Rupiah ditutup terdepresiasi 0,34 persen ke posisi Rp14.862 per dolar AS pada Rabu (22/6/2022), bersamaan dengan indeks dolar AS yang menguat 0,28 persen ke level 104,49. Rupee India turun 0,38 persen dan peso Filipina merosot 0,48 persen. 

Rupiah bersama mayoritas mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar Amerika Serikat karena Federal Reserve bergegas dalam menaikkan suku bunga. 

Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar AS terhadap mata uang lain disebabkan oleh aksi investor yang menunggu isyarat kebijakan moneter dari Ketua The Fed Jerome Powell dalam kesaksian semi tahunan kepada Kongres pada Rabu waktu setempat. 

Dia sebelumnya telah mengindikasikan kenaikan 75 basis poin lagi atau 50 basis poin pada FOMC Juli. “Kebijakan moneter agresif dari The Fed telah memicu kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi dan ini menjadi tanda-tanda perekonomian AS sedang menuju resesi," ujarnya. 

Sementara itu, pelaku pasar di dalam negeri menghadapi kekhawatiran lonjakan kasus positif COVID-19. Dalam 6 hari terakhir, kasus positif secara berturut-turut berada di atas angka 1.000 kasus per hari. 

Mata uang regional telah terperangkap oleh bias hawkish The Fed, yang kontras dengan sikap kebijakan bank-bank sentral Asia yang lebih sabar. 

Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas Felipe Medalla, misalnya, pada Rabu menegaskan kembali otoritas moneter tidak mungkin menaikkan suku bunga utamanya lebih dari 25 basis poin pada Kamis. “Kemungkinan besar tidak,” kata Medalla ketika ditanya apakah kenaikan suku bunga yang lebih besar diperlukan karena penurunan peso, seperti dilansir Bloomberg. 

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menegaskan tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuan di tengah pengetatan kebijakan moneter global. 

Perry menjelaskan, tingkat inflasi domestik masih terkendali, dengan perkiraan inflasi sekitar 4,2 persen pada tahun ini. Selain itu, tambahan subsidi energi yang diberikan pemerintah akan menghambat transmisi kenaikan harga komoditas global. 

“Dengan inflasi yang masih rendah, kami tidak buru-buru menaikkan suku bunga acuan. Kami akan menjaga suku bunga rendah 3,5 persen sampai ada peningkatan inflasi secara fundamental,” katanya dalam acara Indonesia Economic Prospects Launch kemarin. 

Kompak, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan lanjut tertekan pada perdagangan hari ini. Kemarin, IHSG ditutup ke zona merah turun 0,85 persen ke posisi 6.984,31. Sepanjang perdagangan IHSG bergerak pada rentang 6.968,29–7.063,25. 

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya menyebutkan, pola gerak IHSG saat ini dibayangi oleh beberapa faktor yakni sentimen penetapan suku bunga acuan dalam rapat dewan gubernur Bank Indonesia, volatilitas pasar global dan regional, serta volatilitas harga komoditas. 

“Di sisi lain penopang pergerakan IHSG masih berasal dari kondisi kestabilan perekonomian dalam negeri dan mulai berputarnya roda perekonomian dalam negeri. IHSG berpotensi tertekan besok,” katanya. 

William memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang 6.888–7.074 pada perdagangan besok. Beberapa saham yang bisa dicermati investor menurut William antara lain: JSMR, PWON, ASRI, HMSP, UNVR, TLKM, BINA, TBIG, dan KLBF. (tim redaksi) 

#rupiah
#rupiahhariini
#dolar
#ihsg
#saham
#rekomendasisaham

Tidak ada komentar