Breaking News

Kenaikan Avtur dan Kelangkaan Pesawat Jadi Alasan Lonjakan Harga Tiket, KPPU Justru Mencium Dugaan Pelanggaran Persaingan Usaha

Maskapai pesawat terbang Citilink. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id- Lonjakan tiket pesawat ke harga yang dianggap tak wajar masih belum sanggup diintervensi pemerintah. Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, meminta Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan pengawasannya terhadap maskapai. 

"Kalau perlu ada auditnya untuk memastikan bahwa tidak ada pelanggaran terhadap ketentuan Tarif Batas Atas (TBA). Apalagi saat ini ada kebijakan baru untuk maskapai yaitu fuel surcharge yang diberlakukan seiring dengan melambungnya harga avtur dunia" jelasnya dalan keterangan resmi kepada wartawan, dikutip Senin (13/6/2022).

Menurutnya, potensi pelanggaran oleh maskapai saat ini sangat besar. Mengingat tingginya permintaan konsumen dan longgarnya aturan penerbangan yang berlaku.

Ia juga menyatakan bahwa Kemenhub seharusnya memberikan sosialisasi kepada publik terhadap fenomena yang saat ini terjadi. Faktor-faktor apa yang menyebabkan  harga tiket pesawat saat ini melangit. 

"Saya harap Kemenhub memberikan deseminasi/sosialisasi kepada publik terkait fenomena global yang berdampak terhadap sektor transportasi, khususnya transportasi udara" harapnya.

Lonjakan harga tiket pesawat diketahui didorong sejumlah faktor. Selain karena kenaikan harga avtur sebagai imbas naiknya harga minyak dunia, keterbatasan kapasitas maskapai penerbangan juga menjadi salah satu faktor pendorong.

Sedangkan masyarakat tengah euforia untuk kembali traveling usai terpasung selama hampir 2 tahun karena pandemi COVID-19. Keinginan masyarakat untuk plesiran mendongkrak permintaan tiket gila-gilaan.

Di sisi lain, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI mencium adanya dugaan pelanggaran persaingan usaha hingga menyebabkan tingginya harga tiket pesawat terbang. Apalagi, banyak kalangan menilai kenaikan harga tiket yang terjadi saat ini sudah tidak masuk akal. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada bulan Mei naik 0,4 persen, yang disumbang dari tarif angkutan udara, harga telur ayam ras, ikan segar, dan bawang merah. Menurut kelompok pengeluaran sektor transportasi memberi andil paling besar terhadap inflasi Mei 2022 sebesar 0,08 persen setelah makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,20 persen.

Menjelang Idul Adha 2022, Biro Perekonomian Pemprov Sumut sudah mengadakan rapat koordinasi untuk mengantisipasi harga tiket pesawat dan meminta kepada para pihak manajemen maskapai penerbangan untuk mematuhi Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Berdasarkan informasi yang diperoleh, ada beberapa hal yang menjadi penyebab mahalnya tiket penerbangan. 

Mulai dari menurunnya jumlah armada pesawat, peningkatan jumlah penumpang, dan peningkatan harga avtur. Menanggapi fenomena masih tingginya tiket pesawat, KPPU Kanwil I melakukan pemantauan terhadap harga tiket pesawat yang dijual melalui aplikasi online. 

Kepala Kanwil I KPPU Ridho Pamungkas mengatakan, pihaknya melakukan perbandingan harga dari masing-masing rute berdasarkan maskapai dan waktu penerbangan. Dari hasil perbandingan, ia mencatat tingginya harga tiket pada rute-rute yang tidak banyak dilayani oleh maskapai penerbangan.

"Untuk rute penerbangan langsung dari Medan ke Banda Aceh misalnya, pada hari Senin, 13 Juni 2022, Wings Air menjual di harga terendah Rp1,2 juta dan Citilink di harga Rp1,3 juta. Namun pada hari Selasa, 14 Juni 2022, Airasia ikut melayani rute tersebut, harga Wings air ditawarkan Rp646 ribu, Citilink di harga Rp1 juta dan Airasia menjual di harga Rp755 ribu," ucapnya.

Hal tersebut, lanjutnya, terjadi dengan pola berulang. "Jadi, ketika Airasia melayani, harga menjadi kompetitif, jika tidak harga menjadi mahal," bebernya.

Dalam konsep persaingan, Ridho menjelaskan pelaku usaha dilarang memanfaatkan posisi monopolinya untuk mengeksploitasi harga yang harus dibayar konsumen. Dari pantauan tersebut, ia mengendus adanya perilaku pelaku usaha yang menjual tiket di atas harga kompetitifnya.

"Harga yang relatif tinggi juga terdapat pada rute Medan-Padang. Di 13 Juni, untuk penerbangan direct, Wings Air menjual di harga Rp1,8 juta, sementara Lion dengan satu kali transit menjual di harga Rp1,3 juta. Bisa jadi mahalnya harga Wings karena konsumen juga tidak memiliki pilihan lain untuk penerbangan langsung.

Berbeda dengan Medan ke Jakarta yang relatif lebih bervariatif pilihannya, pada tanggal yang sama, Lion Air menjual di harga Rp1 juta, Citilink di harga Rp1,5 juta, dan AirAsia menjual di harga Rp1,1 juta," ulasnya lagi.

Atas temuan dalam pemantauan tersebut, ia menilai bahwa meskipun harga yang ditetapkan maskapai masih dalam rentang yang ditentukan oleh pemerintah, namun masih belum mencerminkan harga yang kompetitif. 

"Untuk mendalami hal tersebut, KPPU Kanwil I akan segera memanggil maskapai penerbangan untuk menjelaskan semakin mahalnya harga tiket pesawat dan bagaimana pola penentuan tarifnya," tegasnya. (tim redaksi)

#hargatiketpesawatmahal
#melonjaknyahargatiketpesawat
#kppu
#kenaikanhargaavtur
#ylki
#dugaanmonopoli
#transportasiudara

Tidak ada komentar