Breaking News

Kejagung Periksa Berkas Perkara Indra Kenz dan Doni Salmanan

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Kejaksaan Agung (Kejagung) Republik Indonesia telah menerima dan sedang meneliti berkas perkara tersangka kasus penipuan investasi bodong trading binary option platform Binomo dan Quotex. 

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung RI Ketut Sumedana menerangkan, berkas perkara kasus Binomo atas nama tersangka Indra Kesuma alias Indra Kenz dan kasus Quotex dengan tersangka Doni Muhammad Taufik alias Doni Salmanan. 

"Saat ini masih dalam tahap koordinasi secara intensif antara penyidik Bareskrim Polri dengan Jaksa Peneliti pada JAM-Pidum Kejaksaan Agung agar perkara tersebut dapat segera dinyatakan lengkap secara formil dan materil (P21)," ujarnya dalam keterangannya dikutip Rabu (15/6/2022). 

Jika berkas sudah dinyatakan lengkap, lanjutnya, Indra dan Doni akan siap untuk disidang. "Selanjutnya yaitu tahap penuntutan," tukasnya. 

Ketut menjelaskan, dalam kasus penipuan ini, Indra menawarkan keuntungan melalui aplikasi Binomo lewat media sosial YouTube, Instagram, dan Telegram di bulan April 2020. 

Tak jauh berbeda, Doni Salmanan juga disebutkan menawarkan keuntungan melalui aplikasi trading binary option Quotex pada bulan Maret 2021. Promosi yang dilakukan keduanya pun berujung merugikan masyarakat. 

Selain itu, tambahnya, Kejagung saat ini juga tengah meneliti 3 berkas perkara kasus investasi bodong platform robot trading Fahrenheit, Viral Blast Global, dan DNA Pro Akademi. "Kasus Fahrenheit terjadi dengan tersangka Hendry Susanto yang menawarkan aplikasi robot trading dan investasi pada aset perdagangan berjangka dan aset Kripto," terangnya. 

Kemudian, berkas perkara kasus robot trading Viral Blast Global milik PT Trust Global Karya. Menurut Ketut, kasus ini terjadi sekitar tahun 2020 sampai 2022. Kasus berawal saat dilaporkan adanya tindak pidana pencucian uang (TPPU) dan terindikasi menjalankan investasi bodong yang berkedok skema Ponzi. 

Terakhir, kasus investasi bodong robot trading DNA Pro Akademi (DPA) yang terjadi pada 28 Februari 2022. Aplikasi itu diduga melakukan robot trading yang tidak memiliki izin. 

Ketut mengatakan, penanganan perkara kasus investasi bodong itu menjadi prioritas untuk ditangani. "Penanganan perkara tindak pidana investasi robot trading ini menarik perhatian masyarakat, sehingga menjadi prioritas untuk ditangani dengan proses yang cepat," pungkasnya. (tim redaksi

#indrakenz
#donisalmanan
#binomo
#quotex
#binaryoption
#robottrading

Tidak ada komentar