Breaking News

Jalan-Jalan ke Luar Negeri, Mayarakat Indonesia Lebih Suka Transaksi Contactless

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Melandainya COVID-19 membuat beberapa negara mulai membuka lagi tempat wisatanya bagi orang luar. Hal ini tentu saja menjadi kabar bahagia bagi travelers. 

Visa, perusahaan pembayaran digital mengungkapkan temuan bahwa masyarakat Indonesia menjadikan perjalanan wisata sebagai pelarian dan hiburan dari rasa penat setelah banyak berdiam di rumah selama pandemi. 

Studi Global Travel Intentions 2021 ini menyoroti bagaimana kebanyakan masyarakat menginginkan perjalanan wisata yang bebas repot, sebagai kebutuhan utama sebesar 21 persen, melampaui kebutuhan berwisata yang bisa diatur sendiri, yang mendasar, yang menguatkan hubungan kembali, dan berdasarkan nostalgia. 

Sejalan dengan ini, perjalanan domestik mengalami pertumbuhan sementara perjalanan internasional belum pulih, dikarenakan adanya pembatasan perjalanan yang diberlakukan pemerintah serta aturan karantina di negara-negara tujuan, pada saat studi ini dilakukan. 

Studi tersebut merupakan studi intelijen digital triwulanan di 49 pasar global, mencakup perjalanan luar negeri dan domestik, dengan beragam topik mulai dari tujuan perjalanan, kebutuhan perjalanan konsumen, perilaku perjalanan, dan preferensi risiko. Studi ini melingkupi semua penelusuran yang menunjukkan minat perjalanan selama pandemi dari bulan Agustus 2020 hingga Juli 2021. 

"Visa melakukan studi Global Travel Intentions ini untuk memahami preferensi perjalanan konsumen saat dunia berangsur pulih dari pandemi. Temuan ini menunjukkan kerinduan masyarakat Indonesia untuk kembali berwisata dengan tanpa beragam pembatasan dan prosedur karantina yang ketat. Seiring banyaknya negara yang sudah mulai melonggarkan aturan perjalanannya, kami berharap perjalanan domestik maupun internasional akan segera berkembang kembali," jelas Riko Abdurrahman, Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia, baru-baru ini. 

Berdasarkan studi ini, ketenangan pikiran / peace of mind (48 persen) dan kesehatan & keselamatan (25 persen) menjadi pertimbangan utama wisatawan Indonesia selama mempersiapkan perjalanan. Untuk memastikan peace of mind, mereka mencari penerbangan yang menawarkan proses refund, asuransi perjalanan, serta paket perjalanan yang terencana. 

Sementara itu, untuk memastikan kesehatan dan keselamatan, konsumen di Indonesia secara berkala memeriksa ketentuan berperjalanan dan memastikan vaksinasi sebelum melakukan perjalanan. Saat bepergian ke luar negeri, mereka juga memilih pembayaran contactless dan pembayaran dengan kartu, untuk transaksi yang lebih aman. 

Destinasi internasional terpopuler yang ingin dikunjungi masyarakat Indonesia berdasarkan studi tersebut, adalah Jepang, Malaysia, Amerika Serikat, Singapura, Thailand, dan Korea Selatan. Motivasi utama untuk bepergian ke luar negeri adalah merasakan pengalaman budaya lokal dan pelarian dari kesibukan serta relaksasi. 

Sedangkan untuk perjalanan domestik, beberapa destinasi yang paling diminati adalah Banyuwangi, Makassar, dan Padang, dengan motivasi utama mencari pengalaman budaya lokal dan petualangan di alam terbuka. 

Perjalanan mewah juga diminati segmen kelas atas/affluent karena menawarkan perpaduan aktivitas yang menenangkan dan eksklusif, dengan kata kunci yang paling banyak dicari adalah hotel mewah (54 persen), restoran fine dining (16 persen), dan resor & vila mewah (10 persen). 

“Kami berharap studi ini memberikan wawasan yang berharga bagi para pelaku usaha di ekosistem industri pariwisata. Seiring jumlah kasus COVID-19 yang terus mengalami penurunan dan keputusan pemerintah untuk mulai membuka perbatasan serta merelaksasi pembatasan perjalanan, kami berbagi optimisme dengan masyarakat Indonesia bahwa pemulihan industri pariwisata semakin terlihat menjanjikan,” tukasnya. 

Berdasarkan data dari PT Visa Worldwide Indonesia, hingga saat ini lebih dari 20 negara hampir seluruhnya sudah menerapkan transaksi pembayaran tanpa kontak.  "Lebih dari 90 persen transaksi sudah contactless. Memang ini tren di seluruh dunia. Kami juga ada survei, tiga dari empat orang di Indonesia ingin mencoba transaksi contactless ini," katanya.  

Oleh karena itu, pihaknya berkolaborasi dengan BCA dan Starbucks berupaya memberikan layanan kemudahan tersebut.  "Setelah pandemi ada recovery, bahkan cenderung euforia. Bahkan ini di luar kesanggupan dari airlines, transportasi. Ini jadi peluang yang tidak ingin dilewatkan oleh perusahaan," kata Executive Vice President PT Bank Central Asia Tbk I Ketut Alam Wangsawijaya. 

Terkait hal itu, dibutuhkan kerja sama dengan semua pihak untuk memberikan infrastruktur agar masyarakat bisa memperoleh pelayanan yang diinginkan. Oleh karena itu, dengan memberikan layanan transaksi tanpa kontak bisa memudahkan masyarakat ketika melakukan pembayaran.  

Pada kesempatan yang sama, Chief Marketing Officer Starbucks Indonesia Liryawati mengatakan hingga saat ini sudah ada 487 gerai Starbucks yang menerapkan transaksi yang bersifat contactless. "Sejak recovery sudah terlihat, kami mulai menyiapkan wacana seperti ini. Oleh karena itu, sejak awal tahun kami sudah menerapkan konsep contactless," katanya. (tim redaksi) 

#healing
#visa
#visacontactless
#bca
#starbucks
#transaksikeuangan
#pembayarandigital

Tidak ada komentar