Breaking News

Imbas Kualitas Udara Buruk, Ganti Masker 4 Jam Sekali dan Minimalkan Aktivitas di Luar Ruangan

Kabut polusi udara di Jakarta. Foto: Ilustrasi/ Antara

WELFARE.id-Kualitas udara Jakarta yang buruk dan masuk kategori tidak sehat jadi perbincangan hangat dalam beberapa hari terakhir.  Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), FAPSR, FISR mengatakan, udara tak sehat memiliki air quality index lebih dari 150. 

Jika sudah 150 atau lebih, ia menyarankan agar warga menghindari beraktivitas fisik berat termasuk berolahraga apabila berada di luar ruangan. "Apabila beraktivitas di luar ruangan, hindari kawasan atau area polusi udara," kata dia, dikutip Rabu (22/6/2022).

Jika terpaksa keluar rumah, ia menyarankan untuk lebih dulu memantau kualitas udara secara realtime, menggunakan masker atau respirator untuk mengurangi masuknya partikel ke dalam saluran napas dan paru. Terlebih pada masa pandemi COVID-19 saat ini, masyarakat disarankan rutin mengganti masker setidaknya 4 jam sekali.

Yaitu, saat kondisinya sudah basah dan menimbulkan rasa tak nyaman sekaligus menjaga efektivitas masker dalam melindungi diri dari paparan virus corona. "Pemakaian masker bedah maksimal 4 jam, respirator paling lama 8 jam diganti. Setelah digunakan, putus talinya," imbaunya.

Apabila berkendara pribadi, tutup semua jendela dan nyalakan AC dengan mode recirculate. Kemudian, saat berada di dalam ruangan, jagalah kualitas udara dalam ruangan tetap baik dengan tidak menambah polusi udara di dalam ruangan, misalnya dengan merokok.

Agus juga menyarankan penggunaan tanaman dalam ruangan yang mempunyai kemampuan air purifier atau peralatan air purifier bisa untuk menjaga kualitas udara dalam ruangan tetap baik. Selain itu, lakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti konsumsi makanan bergizi, perbanyak asupan sayur dan buah-buahan, beristirahat cukup, mencuci tangan, dan tidak merokok.

Polusi udara merupakan suatu kondisi udara mengandung komponen-komponen berbahaya melebihi standar baku mutu. Kondisi ini bisa terjadi di dalam ruangan maupun luar ruangan misalnya bersumber dari kendaraan, bakaran sampah, industri dan lainnya.

Pada kesehatan paru dan pernapasan, polusi udara bisa berefek akut mulai dari iritasi mukosa, iritasi saluran napas atas dan bawah, peningkatan serangan asma, hingga risiko keracunan gas toksik. Sementara dampak jangka panjangnya meliputi penurunan fungsi paru, kanker paru, jantung koroner hingga kematian.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan udara Jakarta masuk kategori tidak sehat pada Senin (20/6/2022). Hal itu diketahui dari pantauan nilai ambang batas (NAB) konsentrasi PM 2.5.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan pada beberapa hari terakhir, konsentrasi PM 2.5 di Jakarta melonjak dan tertinggi berada pada level 148 mikrogram (µg)/m3 pada 15 Juni 2022. PM 2.5 dengan konsentrasi ini dapat dikategorikan dalam kategori kualitas udara tidak sehat.

"Terjadi kenaikan konsentrasi PM 2.5 pada 18 Juni hingga mencapai 147,5 µg/m3. Pada 20 Juni 2022, konsentrasi PM2.5 kembali berada di atas 100 µg/m3," kata Urip lagi.

NAB konsentrasi PM 2.5 adalah sebesar 65 µg/m3. Di bawah nilai tersebut, yaitu antara 15-65 µg/m3 polusi udara berada pada tingkat sedang dan nilai konsentrasi pada 0-15 µg/m3 berada pada kategori baik. 

Di atas NAB, bila berada pada konsentrasi 66-150 µg/m3 kategori tidak sehat, nilai 151-250 µg/m3 kategori sangat tidak sehat, dan lebih dari 250 µg/m3 berada pada kategori berbahaya.

"Pantauan BMKG Kemayoran Jakarta menunjukkan bahwa sejak awal Juni 2022 hingga saat ini konsentrasi rata-rata PM2.5 berada pada level 41 µg/m3 berada pada kategori sedang," ujar Urip.

Ia menjelaskan menurunnya kualitas udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya disebabkan kombinasi, antara sumber emisi dari kontributor polusi udara. Ditambah faktor meteorologi yang kondusif untuk menyebabkan akumulasi konsentrasi PM 2.5. (tim redaksi)

#polusiudara
#kualitasudarajakarta
#kategoriudaratidaksehat
#emisikarbondioksida
#sebabkanpenyakit
#jantungkoroner
#ispa
#keracunangas

Tidak ada komentar