Breaking News

IHSG Dibuka Positif, Disusul Rupiah

Ilustrasi. Foto : net
 
WELFARE.id-Hari ini, Kamis (16/6/2022) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona positif setelah ditutup terkoreksi pada perdagangan kemarin. IHSG pagi ini dibuka menguat ke posisi 7.063,07 dan terus melesat naik hingga 1 persen.  

Penguatan IHSG didukung oleh naiknya saham komoditas energi dan tambang seperti MEDC yang terbang 8 persen, disusul BRMS yang melompak 7 persen, kemudian PGAS menguat 3 persen serta ADMR dan ADRO naik 2 persen.  

Selain itu, saham bank juga turut menopang kenaikan IHSG pagi ini. Tiga saham bank besar yaitu BBCA, BMRI dan BBNI kompak menguat lebih dari 1 persen. Sementara BBRI naik tipis sebesar 0,22 persen. 

"Indeks saham di Asia pagi dibuka naik mengikuti pergerakan indeks saham utama di Wall Street semalam dimana S&P 500 mengakhiri penurunan selama lima hari beruntun," tulis Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Kamis (16/6/2022).  

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 10 tahun turun 18 bps menjadi 3,30 persen sehari setelah menyentuh level tertinggi dalam 11 tahun 3,49 persen. 

Bank sentral AS, Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps, terbesar sejak 1994. Keputusan ini mengerek suku bunga jangka pendek berada di kisaran target antara 1,50 - 1,75 persen. 

Federal Reserve juga memberi sinyal akan terus menaikkan suku bunga acuan hingga 3,4 persen pada akhir tahun ini. Artinya, masih ada lagi kenaikan suku bunga sebesar 1,75 persen tersebar pada empat pertemuan kebijakan yang tersisa tahun ini. 

Federal Reserve juga merilis proyeksi ekonomi terkininya dengan meramalkan inflasi akan tumbuh 5,2 persen untuk tahun ini, lebih cepat dari proyeksi kenaikan 4,3 persen yang di umumkan pada bulan Maret lalu. Untuk 2023, inflasi diprediksi akan tumbuh 2,7 persen sebelum akhirnya melambat menjadi 2,3 persen di 2024. 

Federal Reserve juga merevisi ke bawah beberapa indikator ekonomi lainnya seperti pertumbuhan ekonomi (PDB) yang diyakini hanya akan tumbuh 1,7 persen tahun ini di banding prediksi sebelumnya 2,8 persen. 

Setali tiga uang, rupiah juga bergerak positif setelah tiga hari beruntun loyo melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu kemarin. Rupiah berakhir di Rp14.740/USD atau melemah 0,31 persen dan dalam 3 hari total merosot 1,3 persen. 

Yang menarik, keputusan The Fed tersebut malah membuat sentimen pelaku pasar membaik, yang bisa membuat rupiah menguat hari ini 

Bursa saham AS (Wall Street) melesat, indeks Dow Jones naik 1 persen, S&P 500 1,5 persen dan Nasdaq memimpin sebesar 2,5 persen. Indeks ketakutan (VIX) juga mengalami penurunan drastis sebesar 3 poin ke 29,6. Penurunan indeks ketakutan tersebut menunjukkan sentimen pelaku pasar yang semakin membaik. Sebaliknya, indeks dolar AS justru merosot 0,63 persen ke 104,85. 

The Fed di bulan depan juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga 50-75 basis poin, dan di akhir tahun akan berada di kisaran 3,25-3,5 persen. 

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR akhirnya menembus ke atas resisten kuat di kisaran Rp14.730/USD yang merupakan Fibonacci Retracement 61,8 persen. Sebelumnya, pada 19 Mei lalu, rupiah juga tertahan di level tersebut. 

Fibonacci Retracement tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp13.565/USD dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp16.620/USD. 

Meski demikian, penembusan tersebut terbilang weak breakout, karena masih dekat dengan Rp14.730/USD. Peluang rupiah kembali ke bawahnya masih cukup besar. 

Apalagi, indikator Stochastic pada grafik harian kini bergerak naik dan mencapai wilayah jenuh beli (overbought). Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah. 

Stochastic yang nyaris mencapai overbought menunjukkan tekanan rupiah mulai mereda. Apalagi muncul pola Shooting Star kemarin yang menjadi sinyal pembalikan arah pada perdagangan Kamis (16/6/2022). 

Stochastic pada grafik 1 jam juga mulai turun dari wilayah overbought membuka peluang rupiah menguat hari ini. Stochastic 1 jam digunakan untuk memproyeksikan pergerakan harian. 

Jika mampu ke bawah Rp14.730/USD, rupiah berpeluang menguat ke Rp14.680/USD hingga Rp14.670/USD. Jika level tersebut juga dilewati, rupiah berpotensi ke Rp14.650/USD. 

Sementara selama tertahan di atas Rp14.730/USD, rupiah berisiko melemah ke Rp14.780/USD hingga Rp 14.800/USD. (tim redaksi

#ihsg
#saham
#pergerakansahamhariini
#rekomendasisaham
#rupiah
#rupiahhariini

Tidak ada komentar