Breaking News

Harga Produk Tekstil Merangkak Naik

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Masih berlangsungnya perang antara Rusia dan Ukraina memberikan dampak ke segala bidang. Termasuk tekstil. Harga produk tekstil dalam negeri mengalami lonjakan akibat harga bahan baku yang melesat di pasar global. 

Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan naiknya harga pakaian. Berdasarkan pantauan di toko-toko tekstil Metro Tanah Abang, Jakarta Pusat, diakui ada lonjakan harga dari pabrik. Namun, tidak signifikan. "Beberapa bulan lalu sempat ada, setiap tahun pasti ada naik tapi nggak tinggi banget," ujar Ali. 

Di tokonya, harga ecer kain katun rayon saat ini mencapai Rp28.500/meter sementara sebelumnya ada di harga Rp26.000/ meter. 

Di harga grosiran, sebelumnya ia berikan harga Rp24.000/meter kini menjadi Rp26.500/ meter. Meski ada kenaikan, akunya, tak mengubah banyak laba yang diperoleh. "Nggak begitu pengaruh, lebaran kemarin justru permintaan masih banyak di kita, memang ada pesanan pelanggan tetap juga," katanta. 

Sementara di toko lain, Rudi Royhan, penjual kain polyester salah satu ruko Metro Tanah Abang, mengatakan hal serupa namun. Kain polyester sendiri memiliki ragam jenis sehingga ada penyesuaian terhadap harga yang dikenakan. 

"Kalau naik dari pabrik ya kita ikut naikin juga ya disesuaikan saja, ikut permintaan pasar juga. Saat ini kain polyester di tokonya berada di kisaran Rp13.000 - Rp800.000 per meter dari berbagai jenis yang ada. 

Terpisah, pengusaha tekstil mulai mengkhawatirkan kondisi usaha di sisa 2022. Pasalnya, ancaman produk impor baik yang legal maupun tidak sesuai prosedur mulai kembali membanjiri pasar domestik. 

Sebelumnya, di kuartal IV 2021 Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyampaikan terjadinya kenaikan harga jual produk tekstil akibat lonjakan harga bahan baku kapas internasional. Hal tersebut memicu penyesuaian harga jual secara perlahan.  

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menyatakan, pertumbuhan industri Tekstil dan Produk Tekstil di kuartal I/2022 berhasil mencapai 12,45 persen (yoy).  

Meski begitu, kondisi itu tidak lantas membuat para pemain di sektor ini bisa tenang menghadapi kuartal berikutnya hingga akhir tahun. Capaian pertumbuhan industri di kuartal pertama utamanya didorong oleh penjualan dalam negeri yang meningkat tajam, sebagai dampak momen lebaran.  

Begitu juga, terdongkrak oleh investasi baru dalam rangka penambahan kapasitas produksi dari hulu sampai hilir, selain ada tambahan dari neraca perdagangan yang kian membaik. "Para pengusaha kembali berinvestasi menambah kapasitas, usai serangkaian kebijakan pemerintah terkait pembatasan impor," katanya. 

Namun, keadaan berbalik di kuartal kedua pasca Kementerian Perdagangan kembali membuka keran impor tekstil untuk importir umum (API-U), dengan alasan untuk bahan baku industri kecil dan menengah atau IKM. 

APSyFI menilai, kebijakan tersebut cukup aneh dan janggal. Karena dalam tiga kuartal terakhir industri terkait di dalam negeri mengklaim sudah cukup mampu menyuplai bahan baku untuk IKM. "Puncaknya di kuartal I/2022, ketika permintaan naik, kami sangat mampu menyuplai bahan baku untuk IKM," tuturnya. 

Redma menduga, ada lobi importir yang berkepentingan dibalik pemberian izin impor ini. "Ya impor sih boleh-boleh saja, tapi jangan hancurkan industri dalam negeri. Suplai dalam negeri kan sudah terbukti mencukupi, kenapa harus impor?," tanyanya. 

Kebijakan ini, lanjutnya, menjadi kontraproduktif dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan investasi dan memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakat. Tidak heran, pengusaha begitu pesimistis menghadapi kinerja industri pada kuartal kedua dan seterusnya. 

Terlebih, ada tekanan biaya berupa kenaikan harga bahan baku, kenaikan tarif listrik, hingga kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN).  "Kami sangat mengkhawatirkan kinerja (pertumbuhan) sektor ini," katanya. 

Ke depan, ia berharap, agar pengawasan terhadap barang impor juga diperketat agar tercipta level playing field yang sama di pasar domestik.

Sebelumnya, Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) memulai penyelidikan perpanjangan tindakan pengamanan perdagangan (safeguard measures), atas lonjakan jumlah impor barang benang (selain benang jahit) dari serat stapel sintetik dan artifisial, serta impor barang kain pada Senin (25/4).   

Penyelidikan meliputi impor barang benang (selain benang jahit) dari serat stapel sintetik dan artifisial. Mencakup sebanyak enam nomor Harmonized System (HS) 8 digit, yaitu 5509.22.00; 5509.32.00; 5509.51.00; 5509.53.00; 5510.12.00; dan 5510.90.00.  

Begitu juga, penyelidikan impor barang kain yang mencakup 107 nomor HS 8 digit yang terbagi dalam lima segmen barang. Yaitu kain tenunan dari kapas; kain tenunan dari serat staple sintetik dan artifisial; kain tenunan dari benang filamen sintetik dan artifisial; kain tenunan khusus dan sulaman; serta kain rajutan. (tim redaksi) 

#tekstil
#hargatekstilnaik
#metrotanahabang
#tanahabang
#hargakain
#ekonomi

Tidak ada komentar