Breaking News

Harga Pangan Dunia Terus Melonjak, Krisi Sudah Didepan Mata?

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Harga bahan pangan terus menunjukan pelonjakan. Akibatnya, pembatasan ekspor pangan oleh sejumlah negara terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Beras, bahan makanan pokok di sebagian besar negara Asia, bisa menjadi 'korban' berikutnya. 

Menurut para pengamat industri, banyak harga makanan, mulai dari gandum dan biji-bijian lainnya hingga daging serta minyak, telah melonjak. Kenaikan didorong oleh banyak faktor, termasuk kenaikan biaya pupuk dan energi pada tahun lalu, serta perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai. 

Sejumlah negara mulai membatasi bahkan menghentikan ekspor makanan seperti India (gandum), Ukraina (gandum, oats dan gula), dan Indonesia yang sempat menutup kerang ekspor minyak sawit juga menjadi faktor lainnya. 

"Indeks harga pangan Food and Agriculture Organization (FAO), salah satu badan PBB, menunjukkan kenaikan harga beras internasional untuk bulan kelima berturut-turut mencapai level tertinggi 12 bulan," demikian bunyi menurut data Mei terbaru yang diterbitkan pekan lalu, dikutip Rabu (15/6/2022). 

Bahkan, Frederique Carrier, Direktur Pelaksana dan Kepala Strategi Investasi RBC Wealth Management mengatakan indeks harga pangan PBB menunjukkan harga sekarang sudah 75 persen di atas tingkat pra-pandemi. "Kekurangan tenaga kerja terkait pandemi dan invasi Rusia ke Ukraina telah memperburuk situasi dengan membatasi pasokan makanan dan mendorong harga energi lebih jauh lagi," tukasnya. 

Dia menambahkan, sekitar sepertiga dari biaya produksi makanan terkait dengan energi. "Produksi pupuk yang boros energi telah harganya melonjak sejak tahun lalu," katanya. 

Sebagai negara pengekspor utama gandum, perang Rusia terhadap Ukraina telah menaikkan harga gandum dan serangan tersebut telah mengganggu pertanian serta memblokir ekspor biji-bijian ke luar negeri. Harga gandum telah melonjak lebih dari 50 persen sejak tahun lalu. 

Thailand dan Vietnam juga sedang dalam pembicaraan tentang pakta untuk meningkatkan harga ekspor beras mereka. Empat eksportir juga mengatakan, pedagang beras telah membeli lebih banyak beras India dalam dua minggu terakhir, menurut laporan 6 Juni lalu. 

"Saat ini, saya akan jauh lebih khawatir dengan India yang memberlakukan larangan ekspor beras dalam beberapa minggu mendatang, karena mereka memikirkan setelah gandum dan gula, itu akan menjadi tindakan tak terduga oleh eksportir besar," kata David Laborde, peneliti senior rekan di Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional. 

India dan Tiongkok, dua produsen beras teratas dunia, menyumbang lebih dari setengah dari total global, menurut Forum Ekonomi Dunia. Vietnam adalah yang terbesar kelima, sementara Thailand di tempat keenam. 

India memberlakukan larangan ekspor gandum pada Mei, dengan alasan kebutuhan keamanan pangan negara secara keseluruhan. Mereka juga memberlakukan pembatasan gula hanya beberapa hari setelah larangan gandum. 

Meski begitu, para ahli mengatakan produksi beras masih melimpah, tetapi kenaikan harga gandum, dan biaya pertanian yang umumnya lebih tinggi, akan membuat harga beras layak untuk dipantau. "Kita perlu memantau harga beras ke depan, karena kenaikan harga gandum dapat menyebabkan beberapa substitusi terhadap beras, meningkatkan permintaan dan menurunkan stok yang ada," kata Sonal Varma, kepala ekonom di bank Jepang Nomura. 

Dari dalam negeri, Presiden Joko Widodo sendiri memiliki perhatian serius terhadap adanya potensi krisis pangan. Indonesia juga turut serta menjadi penyebab krisis minyak goreng di negara lain karena penutupan kran ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya beberapa waktu lalu. 

Jokowi mengemukakan saat ini dunia tengah dihantui oleh ancaman krisis pangan hingga krisis energi. selain itu, ada pula ancaman inflasi yang menjadi momok semua negara, tak terkecuali Indonesia. "Dan sampai saat ini, ini baru awal-awal. oleh sebab itu, kita semuanya betul-betul harus siapkan diri," kata Jokowi. 

Jokowi menegaskan dalam menghadapi ancaman krisis pangan dan energi, perlu ada persiapan matang. Apalagi, khusus untuk yang berkaitan dengan energi, hampir separuh kebutuhan energi nasional adalah barang impor. "Kita ini negara besar, pangan juga butuh pangan yang besar, energi juga butuh yang besar baik untuk kendaraan, industri, rumah tangga dan lain-lain," tegasnya. 

"Ancaman krisis pangan ini juga bisa menjadi peluang karena lahan kita besar, banyak yang belum dimanfaatkan, banyak yang belum produktif," lanjutnya. 

Kemandirian pangan, katanya, menjadi penting untuk masa mendatang, supaya tidak tergantung pada negara lain. "Kalau kita tidak bisa mandiri urusan pangan ini menyebabkan bahaya, seperti yang tadinya sudah 3 negara setop ekspor pangan sekarang menjadi 22 negara, sehingga kemandirian pangan sangat penting," katanya. (tim redaksi) 

#hargapangan
#hargapangandunia
#hargapanganduniamelonjak
#krisispangan
#ekonomi
#krisisglobal

Tidak ada komentar