Breaking News

Gizi Buruk di Malut Terburuk, Anak Stunting Ancaman Masa Depan RI

Gizi buruk. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Masalah gizi buruk di Maluku Utara (Malut) masih terus terjadi. Kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai, ditengarai sebagai pemicunya.

Masyarakat menjadi kurang teredukasi tentang pentingnya mengonsumsi makanan bernutrisi bagi calon ibu. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memastikan, pemerintah akan mengupayakan pemerataan fasilitas kesehatan di Maluku Utara.

Hal tersebut menyusul angka stunting di Maluku Utara masih tinggi karena terbatasnya fasilitas kesehatan di tengah wilayah yang berbentuk kepulauan. "Karena itu, pemerintah melalui Pak Menteri Kesehatan harus membuat langkah-langkah transformatif untuk Maluku Utara bagaimana supaya ada rumah sakit pendukung dari rumah sakit rujukan utama di pulau-pulau yang ada, agar penanganan stunting dan gizi buruk bisa selesai," kata Muhadjir dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa (14/6/2022).

Angka prevalensi stunting balita di wilayah tersebut ada sebesar 27,5 persen berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021. Salah satu penyebabnya adalah fasilitas dan sarana prasana yang masih kurang memadai. 

Padahal Maluku Utara merupakan wilayah kepulauan yang penduduknya tersebar. "Ini problemnya spasial karena di sini kepulauan. Sekitar ratusan pulau di sini ada penghuninya. Sementara posisi rumah sakit rujukan itu di Kota Ternate dan harus meng-cover seluruh pulau itu," kata Muhadjir.

Sebelumnya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Malut telah intensif melakukan sosialisasi terkait penanganan kekurangan gizi menyusul masih tingginya angka balita yang mengalami kekurangan gizi  di provinsi itu. 

"Hal ini perlu kerja ekstra dari pemerintah untuk menangani dan mencegah permasalahan yang mengakibatkan banyak balita mengalami underweight (berat badan kurang). Sebab angka balita kekerdilan yang mengalami sangat pendek dan wasting balita yang mengalami gizi buruk, gizi kurang dan obesitas itu," kata Kepala Perwakilan BKKBN Malut Renta Rego, terpisah, belum lama ini.

Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Malut pada 2020, lanjutnya, balita yang ada di Malut sebanyak 95.051 orang, yang mengalami kekurangan berat badan sebanyak 3.146 balita atau 14.1 persen, kekerdilan 3.541 balita atau 16.0 persen, dan kekurangan gizi  1.810 balita atau 8.2 persen.

Pada  awal 2021, Pemerintah Indonesia menargetkan angka kekerdilan turun menjadi 14 persen pada 2024. Mengingat kekerdilan, tidak harus terpaku pada bayi yang sudah terlahir stunting, tetapi juga lebih banyak fokus pada mereka yang baru akan menikah (Calon Pengantin), agar mereka dapat merencanakan kehamilan dari sebelum menikah.

Sehingga calon pengantin dapat menyiapkan kondisi yang baik agar terjadi kekurangan gizi, anemia, kemudian juga memperhatikan jarak antar melahirkan agar tidak terjadinya stunting. 

Renta juga mengingatkan pentingnya menyiapkan kesehatan yang prima sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, ada baiknya kebiasaan masyarakat yang memilih mengeluarkan biaya hingga puluhan juta untuk sekedar melakukan prewedding, tapi tidak memikirkan hal yang lebih mendesak yakni prakonsepsi, dimana calon ibu periksa hb (hemoglobin) dan minum tablet tambah darah.

Sementara, calon ayah hanya perlu mengurangi rokoknya, kemudian suami minum zinc supaya spermanya bagus. Para calon ibu dianjurkan tidak melakukan diet ketat.

Hal ini dapat mengakibatkan calon ibu kekurangan nutrisi, anaknya bisa stunting. Semua hal ini dilakukan untuk memastikan calon pasangan suami istri dan atau perempuan yang sudah menikah dan ingin hamil memiliki kriteria kesehatan yang baik untuk memproduksi, mengandung serta melahirkan anak yang sehat dan berkualitas.

Di Indonesia meningkatnya angka stunting disebabkan berbagai faktor kekurangan gizi pada bayi, diantara 5 juta kelahiran bayi setiap tahun, sebanyak 1,2 juta bayi lahir dengan kondisi kekerdilan. Saat ini, bayi lahir saja sudah 23 persen evalensi kekerdilan. 

Banyak yang lahirnya normal tapi kemudian menjadi kekerdilan sehingga angkanya menjadi 27,6 persen. Artinya dari angka 23 persen muncul dari kelahiran yang sudah tidak sesuai standar.

Hal lain yang juga menyebabkan stunting adalah sebanyak 11,7% bayi terlahir dengan gizi kurang yang diukur melalui ukuran panjang tubuh tidak sampai 48 cm, dan berat badannya tidak sampai 2,5 kg. 

Tidak hanya itu, tingginya angka stunting di Indonesia juga ditambah dari bayi yang terlahir normal akan tetapi tumbuh dengan kekurangan asupan gizi sehingga menjadi stunting, karena tidak medapatkan ASI dengan baik, kemudian asupan makanannya tidak cukup. (tim redaksi)

#giziburuk
#stunting
#malukuutara
#cegahgiziburuk
#fasilitaskesehatan
#edukasiasupannutrisi
#makananbergizi
#kekerdilan

Tidak ada komentar