Breaking News

Era "Bakar Uang" Berakhir, Startup Level Menengah Diprediksi Rontok Bertahap hingga 2024

Perusahaan rintisan sedang berjibaku dengan fenomena bubble burst. Foto: Ilustrasi/ iStock

WELFARE.id-Era "bakar uang" perusahaan rintisan sepertinya segera berakhir. Masa bulan madu bagi para startup di Indonesia juga mungkin perlahan habis. 

Indikasi ini setidaknya bisa terlihat dari beberapa startup tanah air yang mulai melakukan pengurangan karyawan alias PHK. Setidaknya selama setahun terakhir ada beberapa startup di indonesia yang melakukan PHK. 

Bahkan, beberapa diantaranya sempat tersandung masalah soal hak karyawan. Berikut, dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (7/6/2022):

UangTeman (Desember 2021)

Startup di bidang fintech ini diguncang PHK massal dan bahkan dituntut oleh mantan karyawannya, karena tidak membayar tunggakan gaji, pajak, serta iuran BPJS.

Fabelio (Desember 2021)

Perusahaan rintisan bergerak di bidang furniture ini konon memaksa karyawannya mengundurkan diri untuk mendapatkan haknya secara penuh.

Tanihub (Februari 2022)

Startup pertanian ini melakukan PHK massal setelah dua gerainya di Bandung dan Bali ditutup. Menurut pihak TaniHub, langkah PHK dilakukan karena startup ini menghentikan kegiatan Business to Consumer (B2C) dan fokus meningkatkan pertumbuhan Business to Business (B2B).

Zenius (Mei 2022)

Startup di bidang edu-tech ini melakukan PHK terhadap 200 karyawan, dengan alasan perubahan model bisnis dan dampak ekonomi.

JD.ID (Mei 2022)

Layanan belanja daring atau e-commerce JD.ID mengambil langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu improvisasi agar perusahaan dapat terus beradaptasi dan selaras dengan dinamika pasar dan tren industri di Indonesia.

LinkAja (Mei 2022)

Startup hasil konsorsium sejumlah BUMN itu juga sudah melakukan PHK massal terhadap ratusan karyawan. Model bisnis yang berubah membuat startup tersebut harus melakukan reorganisasi karyawan.

Pengamat teknologi yang juga Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai, kondisi bisnis startup saat ini dinilai sulit mendapat pendanaan. "Kalau saya melihat ini bukan pecahnya gelembung, tapi gelembung mulai bocor. Startup yang ada sekarang juga memperlihatkan banyak pencitraan yang merugikan dirinya sendiri," kata Heru, dikutip Selasa (7/6/2022).

Ia menambahkan, pemberian gaji besar hingga kantor mewah disertai fasilitas modern sebagai salah satu pencitraan yang kerap dilakukan perusahaan startup. "Kalau mendapat pendanaan besar tidak masalah, tapi kalau pendanaan tidak besar, jadi pemborosan," tambahnya.

Karenanya, ia mengatakan untuk mendapatkan pengguna, perusahaan rintisan harus rela membakar uang. Namun, ia menilai pendanaan kerap sulit didapatkan terlebih saat ini arah baru startup mengusung kecerdasan buatan atau big data analytic, internet of things, maupun metaverse.

"Untuk meraih pengguna, startup rata-rata harus bakar uang. Sementara, pendanaan kian ke sini juga kian sulit. Apalagi untuk layanan yang sudah melewati fase pertumbuhannya seperti e-commerce," lanjutnya.

Kendati demikian, ia melihat saat ini banyak startup yang sudah membuktikan keuntungan konsisten. Meski perjalanan masih berat sebab ada pengembalian pendanaan kepada investor.

"Seperti transportasi online ya Gojek dan Grab, pembayaran digital ya Gopay, Ovo, lagi merangsek pasar shopeepay, begitu juga e-commerce," ujar dia. Heru memprediksi, apabila dalam satu hingga dua tahun startup tidak survive atau berubah menjadi unicorn, maka startup level menengah bersiap untuk rontok.

"Sehingga, gelombang PHK startup dalam skala besar maupun kecil akan sering kita lihat dalam beberapa waktu ke depan," imbuhnya. (tim redaksi)

#perusahaanrintisan
#bubbleburst
#gelombangphkstartup
#startupsurvive
#bakaruang
#startup

Tidak ada komentar