Breaking News

Emirsyah Satar Kembali Tersangka dalam Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Pesawat, Kejagung Tak Lakukan Penahanan

Mantan Dirut PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Emirsyah Satar. Foto: Istimewa/ Antara

WELFARE.id-Malang benar nasib mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Emirsyah Satar. Tengah menjalani masa penahanan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kini Emirsyah Satar juga kembali ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung, Senin (27/6/2022).

Kali ini, penetapan tersangka terkait kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat CRJ 1000 dan ATR 72-600. Jaksa Agung ST Burhanuddin mengatakan, kasus korupsi ini diduga telah merugikan keuangan negara hingga mencapai Rp8,8 triliun. 

Pengadaan pesawat itu diduga melawan hukum dan menguntungkan pihak lessor. Dalam keterangan resmi Kejagung, dikutip Selasa (28/6/2022), Emirsyah bersama tim di bawahnya tidak melakukan evaluasi dan menetapkan pemenang pengadaan pesawat dengan tidak transparan, tidak konsisten, dan tidak sesuai kriteria. 

Perusahaan diduga mengabaikan prinsip-prinsip pengadaan yang harus dilalui sebagai pelat merah. Hal tersebut lantas mengakibatkan kerugian keuangan negara triliunan rupiah. 

Meski ditetapkan sebagai tersangka, Kejagung tak melakukan upaya penahanan. Pasalnya, Emirsyah Satar saat ini juga tengah menjalani masa penahanan terkait kasus korupsi yang ditangani oleh KPK.

Kejaksaan Agung menyatakan kasus yang mereka tangani ini berbeda dengan yang pernah ditangani KPK. "Sama sekali tidak ada nebis in idem,” jelas Jaksa Agung ST Burhanuddin, dikutip Selasa (28/6/2022).

Nebis in idem adalah istilah hukum yang merujuk pada obyek hukum yang sama. Selain Emirsyah, Kejaksaan juga menetapkan Direktur PT Mugi Rekso Abadi Soetikno Soedarjo. 

Baik Emirsyah dan Soetikno saat ini berstatus terpidana dalam kasus korupsi di KPK. Penyimpangan terjadi dalam proses kajian Feasibility Study/ Business Plan rencana pengadaan pesawat Sub-100 Seaters (CRJ-1000) maupun pengadaan pesawat turbopropeller (ATR 72-600). 

Di dalamnya memuat analisis pasar, rencana jaringan penerbangan, analisis kebutuhan pesawat, proyeksi keuangan dan analisis resiko. Penyimpangan juga terjadi dalam proses pelelangan dalam pengadaan pesawat Sub-100 Seaters (CRJ-1000) maupun pengadaan pesawat turbopropeller (ATR 72-600). 

Karena mengarah untuk memenangkan pihak penyedia barang / jasa tertentu, yaitu Bombardier dan ATR. Selain itu, adanya indikasi suap-menyuap dalam proses pengadaan pengadaan pesawat Sub-100 Seaters (CRJ-1000) maupun pengadaan pesawat turbopropeller (ATR 72-600) dari manufacture. Akibat dari pengadaan yang menyimpang itu mengakibatkan PT Garuda Indonesia mengalami kerugian. (tim redaksi)

#garudaindonesia
#emirsyahsatartersangka
#kejaksaanagung
#jaksaagung
#stburhanuddin
#kasusdugaankorupsipengadaanpesawat
#tahanankpk
#garudaalamikerugian
#rugikannegara

Tidak ada komentar