Breaking News

Eksportir Gandum Bertahap Stop Pengiriman, Harga Mie Instan dan Roti Siap-Siap Naik

Mie instan. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan menyebabkan kekhawatiran pada negara importir gandum. Sejumlah negara pengeskpor gandum bertahap hentikan pengiriman ke negara impor.

Sebagai negara importir gandum, Indonesia sedang ketar-ketir. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti jajaran menterinya untuk segera mengantisipasi tren kenaikan harga jagung, gandum, dan kedelai. 

Mengingat, lonjakan harga ketiga komoditas tersebut dapat merembet ke produk turunannya. Seperti, lonjakan harga jagung dunia telah mengerek harga pangan ternak. 

Alhasil, turut mendongkrak harga daging ayam sampai telur di pasaran. Hal yang sama juga berlaku akibat kenaikan harga gandum dunia yang mencapai 30 persen sampai 40 persen. 

Di mana telah menyebabkan harga terigu melonjak. Terigu sendiri merupakan komposisi penting dalam pembuatan mie instan.

"Gandum naik 30-40 persen karena Ukraina dan Rusia bermasalah. Gandum harganya naik, di sini ada mie dan roti semua dari gandum," ujarnya saat Peringatan 50 Tahun HIPMI, di JCC Senayan, dikutip Sabtu (11/6/2022).

Kemudian, kenaikan harga kedelai impor sebesar 33 persen juga turut berimbas ke Indonesia. Mengingat, harga tempe dan tahu sebagai makanan favorit masyarakat ikut melonjak.

"Inilah yang perlu saya ingatkan, yang berkaitan pangan harus hati-hati ke depan," kata Jokowi.

India sudah sebulan ini menangguhkan sementara ekspor gandum ke luar negeri. Penghentian ekspor diambil untuk melindungi kebutuhan dalam negeri negara itu yang saat ini sedang mengalami lonjakan harga.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pelarangan gandum oleh India akan berdampak pada pakan ternak yang sebagian menggunakan campuran gandum. Ketika harga gandum naik bisa menyebabkan harga daging dan telur juga naik.

"Pengusaha harus segera mencari sumber alternatif gandum dan ini harusnya menjadi kesempatan bagi alternatif bahan baku selain gandum seperti tepung jagung, singkong, hingga sorgum yang banyak ditemukan di Indonesia," kata Bhima di Jakarta, dikutip Sabtu (11/6/2022).

India merupakan produsen gandum nomor 2 terbesar di dunia setelah Tiongkok dengan kapasitas produksi 107,5 juta ton. Sementara Indonesia mengimpor gandum tiap tahun sebesar 11,7 juta ton atau setara USD3,45 miliar.

Angka impornya naik 31,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Jadi kalau India melakukan proteksionisme dengan larang ekspor gandum, sangat berisiko bagi stabilitas pangan didalam negeri. 

Dengan inflasi yang mulai naik, dikhawatirkan garis kemiskinan akan meningkat. Pelarangan ekspor ini akan berdampak pada harga gandum di pasar internasional telah naik 58,8 persen dalam satu tahun terakhir. 

Imbas pada inflasi pangan akan menekan daya beli masyarakat. Contohnya tepung terigu, mie instan sangat butuh gandum, dan Indonesia tidak bisa produksi gandum. 

Banyak industri makanan minuman skala kecil yang harus putar otak untuk bertahan ditengah naiknya biaya produksi. Kedua, pelarangan ekspor gandum yang belum diketahui sampai kapan waktunya membuat kekurangan pasokan menjadi ancaman serius. (tim redaksi)

#industripangan
#kenaikanhargagandum
#pakanternak
#indiastopeksporgandum
#perangrusiaukraina
#mieinstan
#negaraimportirgandum

Tidak ada komentar