Breaking News

Bencana Hidrometeorologi Dominan, Sebanyak 2 Juta Lebih Warga Terpaksa Mengungsi Sepanjang 2022

Pengungsi akibat bencana alam di Indonesia. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Bencana hidrometeorologi mendominasi peristiwa alam yang terjadi di Indonesia sepanjang paruh pertama 2022. Gempa bumi dan gunung meletus menjadi bencana kedua yang juga memaksa warga untuk mengungsi dari rumah mereka.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, sebanyak 1.755 kali bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang periode 1 Januari hingga 9 Juni 2022. Sebanyak 2.328.525 jiwa mengungsi karena bencana alam tersebut. 

"Sampai 9 Juni 2022 tercatat jumlah kejadian bencana sebanyak 1.755 kejadian," tulis laporan BNBP melalui akun twitternya @BNPB_Indonesia, dikutip Sabtu (11/6/2022). Kejadian bencana alam yang mendominasi adalah, cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. 

Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 688 kali, tanah longsor 328 kali, dan cuaca ektrem 630 kali. Sementara itu, gempa bumi terjadi sebanyak 12 kali, kebakaran hutan dan lahan 88 kali, gelombang pasang dan abrasi 8 kali. 

"Dari dampak bencana alam tersebut menimbulkan korban meninggal dunia 93 jiwa, hilang 11 jiwa, 652 luka-luka dan terdampak, dan mengungsi 2.328.525 jiwa," tutup laporan itu. 

Sebelumnya, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, tren bencana alam pada 2022 ini merupakan hidrometeorologi basah dan terjadi hampir di seluruh pulau yang ada Indonesia.

"Dominannya di 2021 kita hidrometeorologi basah sehingga ini menjadi perhatian kita karena tren ini juga kemudian terjadi di 2022," jelas dia, sebelumnya, Jumat (1/4/2022) lalu. Untuk itu, pihaknya telah memetakan tujuh provinsi yang paling sering terjadi bencana alam hidrometeorologi basah. 

Ketujuh provinsi itu yakni, Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. BNPB pun mengimbau, bagi pemerintah daerah di tujuh provinsi tersebut agar benar-benar memerhatikan kondisi lingkungannya untuk dibenahi secara kolektif. 

"Kami meminta untuk melihat kembali kondisi lingkungan, kondisi sungai, kondisi alam pegunungan yang selama ini menjadi daerah tangkapan air daerah resapan air. Kondisi daerah sepanjang aliran sungai yang mungkin selama ini terjadi penyempitan terjadi pendangkalan itu harus benar-benar kita benahi bersama selanjutnya," sarannya. (tim redaksi)

#bencanaalam
#bencanahidrometeorologi
#bnpb
#cuacaekstrem
#provinsirentanbencanahidrometeorologi
#tanahlongsor
#banjirbandang

Tidak ada komentar