Breaking News

Banyak Penganiayaan Terhadap Kurir, YLKI Minta Sistem COD Dihapus

Ilustrasi COD. Foto : net

WELFARE.id-Meski digemari dan juga dianggap mengakomodir target pasar yang belum memiliki akses perbankan digital, metode pembayaran tunai di tempat atau cash on delivery (COD) memunculkan problem baru, yaitu keselamatan kurir. 

Masih banyak konsumen yang berbelanja online dengan sistem COD namun tidak tahu mekanismenya. Yang jadi sasaran adalah kurir yang mengantarkan barang pesanan ke konsumen. Intimidasi verbal hingga tindak kekerasan fisik mewarnai transaksi antara kurir dengan konsumen pengguna layanan COD. 

Belum lama ini, seorang ibu memukul hingga jatuh ponsel milik kurir ketika ia menolak membayar barang pesanannya. Video ini pun viral di media sosial. Sebelumnya, hal serupa juga terjadi di Bengkulu. Dari video yang beredar kurir dianiaya oleh okum ASN kelurahan di Kota Bengkulu lantaran menolak membayar pesanan COD yang dipesan anaknya.  

Selain itu, seorang kurir di Lampung dipukuli dua prang lelaki yang diketahui pemesan paket yang emosi lantaran ucapan kurir. Pemesan diketahui tiga kali tidak berada di rumah saat paketnya diantar oleh kurir. Akibatnya pelaku dibawa ke Polsek Metro Barat.  

Lantas agar kekerasan tidak kembali berulang mungkinkah sistem ini kembali dievaluasi atau yang paling ekstrem dihapuskan? 

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspress, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) M. Feriadi menilai hal tersebut menjadi semacam paradoks dengan banyaknya gambaran tentang kemudahan, kemeriahan, kepraktisan, maupun keriangan dalam dunia belanja melalui online. 

“Seperti disampaikan juga oleh pihak lain yang berkaitan dengan konsumen bahwa keluhan yang disampaikan dengan makian menggunakan kata-kata yang tidak pantas, tidak dibenarkan. Penyampaian keluhan dengan amarah yang berlebihan apalagi dengan cacian serta makian, tentu menimbulkan masalah baru dan bukan mencapai solusi terbaik," ujarnya, dikutip Rabu (29/6/2022). 

Dia menyebut, COD sendiri bertujuan untuk mempermudah pembeli yang tidak memiliki rekening bank maupun akses dompet digital, agar tetap dapat bertransaksi secara daring karena pembayaran dilakukan secara langsung dan tunai setelah barang tiba. 

"Sistem COD diperlukan karena masih banyak masyarakat yang tidak punya akses ke digital payment maupun akses non tunai seperti kartu kredit, rekening bank dan lainnya sehingga metode COD jadi pilihan yang membantu," katanya. 

Ia mencatat 30-40 persen pengiriman barang berasal dari pesanan pelanggan toko daring yang membayar dengan sistem COD. "Hingga hari ini bisa kita bilang mungkin 30-40 persen kiriman-kiriman barang belanjaan itu masih banyak juga yang COD," katanya 

Sayangnya, kurir atau petugas pengantar yang mengemban amanah pengiriman paket kerap menjadi sasaran keluhan pelanggan. Padahal, lanjutnya, penggunaan sistem COD merupakan kesepakatan antara penjual dan pembeli sehingga jasa kurir hanya bertugas melakukan pengantaran serta menerima pembayaran dari pembeli untuk kemudian uangnya diserahkan kepada penjual melalui sistem. 

"Tidak semestinya keluhan disampaikan dengan amarah berlebihan, apalagi mencaci maki petugas pengantar paket," lanjutnya. 

Berharap hal serupa tak terulang, Feriadi mengungkapkan ada sejumlah langkah–langkah mitigasi terkait dengan risiko seperti halnya dari kasus viral kali ini yang terus dilakukan dan dikembangkan. 

Menurutnya, dengan teknologi saat ini setiap proses dalam pengantaran paket dapat termonitor, termasuk ketika kurir berinteraksi dengan pelanggan sehingga penanggung jawabnya jelas. "Tujuannya dalam rangka terciptanya aktivitas jual beli dalam ekosistem e-commerce yang setiap prosesnya dapat dipertanggungjawabkan bersama," jelasnya. 

Selain itu, perusahaan jasa pengiriman pun menjalankan berbagai langkah agar dapat memahami beragam risiko yang dapat terjadi. Setiap perusahaan jasa pengiriman ekspres selaku penyelenggara pos selalu menyiapkan kondisi fisik dan mental para kurir agar berhasil dalam menjalankan tugasnya. Pun dengan memberikan edukasi terkait informasi mengenai detil produk-produk layanan kepada customer. 

Dia menyebut, selain menggunakan berbagai media komunikasi, di seluruh jaringan penjualan jasa kiriman tersedia informasi kepada pengirim tentang produk layanan yang dapat digunakan, seperti petunjuk tentang penggunaan, kecepatan, keselamatan dan ketepatan penyampaian barang serta yang lainnya. 

"Tentu saja pada kesempatan ini, kami juga mohon maaf apabila masih ditemukan perilaku kurir kami yang tidak sesuai atau merugikan pelanggan. Mari kita menikmati perkembangan e-commerce ini dengan sehat dan menyenangkan. Sampaikan keluhan secara proporsional melalui berbagai saluran komunikasi yang disediakan agar solusi dapat diraih," imbuhnya. 

Ia menjelaskan, kurir telah mempelajari dan mengetahui SOP untuk menyerahkan barang khususnya COD. Karena salah satu resiko dari kurir adalah dalam kehati-hatian memproses atau menyerahkan kiriman dengan sistem COD.  "Para kurir atau seluruh karyawan yang terlibat di dunia kurir, kita akan melayani costumer dengan senyum, sapa, dan salam. Jadi artinya kita menghindari atas semua risiko kekerasan fisik maupun verbal yang kemungkinan dihadap," tuturnya. 

Terpisah, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, sebenarnya layanan COD sangat memudahkan para konsumen. Namun lantaran tingkat literasi masyarakat terhadap proses bisnis dan informasi terkait produk masih rendah, kesalahpahaman antara konsumen dan kurir kerap terjadi. 

Sementara di sisi lain, sering terjadi barang yang dipesan tidak sesuai dengan yang diterima konsumen. Oleh sebab itu, YLKI menyarankan agar layanan COD dihapus. "Tingkat literasi masyarakat terhadap proses bisnis dan product knowledge masih rendah plus di sisi lain, sering terjadi barang yang yang dipesan tidak sesuai dengan yang diterima konsumen. Hapuskan saja (sistem COD)," kata Tulus. 

Tulus mengaku, dirinya sudah pernah menyarankan hal ini kepada perusahaan e-commerce. (tim redaksi) 

#ecommerce
#belanjadaring
#belanjaonline
#cod
#kurirdianiayakonsumen
#ylki

Tidak ada komentar