Breaking News

2035 Eropa Setop Mobil Berbahan Bensin, Produsen Otomotif Terbelah

Ilustrasi. Foto : dw

WELFARE.id-Uni Eropa akan segera mengakhiri produksi dan penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel pada tahun 2035. Rencana ini merupakan salah satu upaya dalam mengurangi emisi gas karbon yang dikeluarkan oleh kendaraan berbahan bakar bensin maupun diesel. 

Komisi Eropa (badan eksekutif Uni Eropa) mengatakan, mereka telah meminta kepada seluruh perusahaan yang bergerak di industri otomotif untuk memangkas emisi rata-rata mobil baru mereka sebesar 55 persen pada tahun 2030. Target baru Euro untuk 2030 merupakan lompatan yang signifikan dari target UE sebelumnya di 2018 di mana mereka telah mengurangi emisi dari mobil produksi baru sebesar 37,5 persen. 

Setelahnya, pada tahun 2035, setiap perusahaan otomotif di Eropa diminta untuk hanya memproduksi mobil/kendaraan yang tidak mengeluarkan emisi gas sama sekali. Dengan kata lain, pada 2035, Uni Eropa hanya akan memproduksi mobil listrik. 

"Ekonomi bahan bakar fosil telah mencapai batasnya. Kami ingin meninggalkan generasi berikutnya sebuah planet yang sehat serta pekerjaan yang baik dan pertumbuhan yang tidak merusak alam kita," kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada 2021 lalu. 

Dilansir oleh CNBC, sebanyak 339 anggota parlemen di Parlemen Eropa telah memberikan suara mendukung rencana tersebut, yang diusulkan Komisi Eropa cabang eksekutif Uni Eropa. Namun ada sebanyak 249 suara yang menentang pengajuan tersebut, sementara 24 anggota lainnya memilih abstain. 

Dikatakan oleh Komisi Eropa bahwa baik kendaraan penumpang dan komersial ringan menyumbang sekitar 12 persen dan 2,5 persen dari total emisi CO2 di penjuru Uni Eropa. Para anggota parlemen tersebut kini sedang bernegosiasi tentang rencana tersebut dengan 27 negara yang menjadi anggota blok itu. Sementara Inggris yang sudah bukan anggota Uni Eropa, akan stop penjualan mobil baru bermesin bensin dan diesel mulai 2030, sedangkan pada 2035 semua mobil harus tidak menghasilkan emisi CO2. 

Hasil voting ini disambut baik oleh anggota parlemen dari Belanda, Jan Huitema. "Saya senang bahwa Parlemen Eropa telah mendukung revisi ambisius dari target untuk 2030 dan mendukung target 100 persen untuk 2035, yang sangat penting untuk mencapai netralitas iklim pada 2050," kata Huitema yang juga adalah anggota dari Renew Europe Group. 

Target untuk jangka lebih panjang lagi, Uni Eropa ingin menjadi netral karbon pada tahun 2050. Target jangka menengahnya adalah emisi gas rumah kaca bersih bisa berkurang setidaknya sampai 55 persen pada tahun 2030, yang diklaim adalah langkah yang tepat untuk rencana “Fits For 55”. 

Namun realisasinya tidak berjalan mulus, karena wacana ini naik setelah anggota parlemen menolak revisi Sistem Perdagangan Emisi uni Eropa. Dikatakan bahwa tiga rancangan undang-undang dalam Fit for 55 “ditunda menunggu kesepakatan politik”. 

Sementara dari sisi pabrikan otomotif, European Automobile Manufacturers’ Association (ACEA) menyatakan merasa khawatir dengan target yang dipilih oleh parlemen untuk 2035. Industri otomotif semakin didorong untuk terus menghadirkan semakin banyak kendaraan listrik, seperti disampaikan oleh Presiden ACEA dan CEO BMW, Oliver Zipse. 

"Tetapi mengingat volatilitas dan ketidakpastian yang kami alami secara global setiap waktunya, peraturan jangka panjang apa pun yang melampaui dekade ini terlalu dini pada tahap awal ini. Sebaiknya, tinjauan transparan diperlukan di tengah jalan untuk menentukan target pasca 2030," katanya. 

Ford dan Volvo sebelumnya sudah mendukung penghijauan otomotif dengan menyatakan berhenti menjual mobil bensin dan diesel pada 2035. Sementara itu Volkswagen juga menyetujui melakukan itu namun hanya di Eropa. 

Menurut Reuters, grup industri termasuk VDA, asosiasi pelaku industri otomotif asal Jerman, tengah melobi Uni Eropa agar menolak proposal 2035. Mereka mengatakan proposal itu akan menghukum teknologi alternatif bahan bakar rendah karbon dan menilai komitmen seperti itu terlalu dini mengingat infrastruktur belum pasti. "Posisi kami transparan. Ini adalah misi kami untuk mengembangkan solusi terbaik dengan semua orang yang terlibat," kata juru bicara VDA. 

Pada 2021, 18 persen penjualan mobil di Eropa berupa mobil listrik atau plug-in hybrid berdasarkan data asosiasi pemanufaktur otomotif setempat. (tim redaksi) 

#unieropa
#setopkendaraanberbahanbensin
#zeroemision
#otomotif
#pabrikanotomotif

Tidak ada komentar