Breaking News

Tingkat Konsumsi Ikan Masyarakat Indonesia Masih Rendah, Ini Penyebabnya

Nelayan tangkap ikan. Foto : dok kkp

WELFARE.id-Ikan merupakan salah satu komoditas yang banyak dikonsumsi penduduk dunia. Di beberapa negara, ikan sudah menjadi makanan pokok, sementara di beberapa negara lain hanya sebagai makanan pelengkap. 

Berdasarkan laporan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD),  angka konsumsi ikan secara global sebanyak 180,07 juta metrik ton pada 2021. Angka tersebut meningkat 1,02 persen dibandingkan rata-rata konsumsi tahun 2018-2020 yang sebesar 178,3 juta metrik ton. Pada 2030, konsumsi ikan diproyeksi naik menjadi 200,6 juta metrik ton. 

Negara berkembang lebih banyak mengkonsumsi ikan daripada negara maju. Konsumsi ikan di negara berkembang sebanyak 143,5 juta metrik ton pada 2021. Sedangkan, konsumsi ikan di negara maju sebanyak 36,6 juta metrik ton. 

Di Indonesia sendiri, kendati terus meningkat, namun tingkat konsumsi ikan masih terbilang rendah dibanding Malaysia, Vietnam dan Myanmar. Kementerian Kelautan dan Perikanan pun terus melakukan upaya peningkatan konsumsi ikan masyarakat Indonesia. 

Adapun pada tahun 2024, pemerintah menargetkan konsumsi ikan masyarakat Indonesia mencapai 62,5 kilogram per kapita. Co Founder & Chief Sustainability Aruna Utari Octavianty menuturkan, tingkat konsumsi ikan di Indonesia memang masih rendah. Diketahui, per tahun 2020 tingkat konsumsi ikan di Indonesia belum mencapai 60 kilogram per kapita. 

''Per tahun 2020 data yang dirilis BPS menunjukkan belum sampai 60 kilogram per kapita. Padahal Indonesia ini negara maritim, dan kebanyakan masyarakatnya lebih suka mengonsumsi ayam atau daging,'' ujarnya dikutip Rabu (18/5/2022). 

Dia menjelaskan, ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Namun, harus diakui dalam beberapa tahun terakhir khususnya di masa pandemi tingkat konsumsi ikan terus meningkat. 

''Tentu ada banyak faktornya, tapi memang saat ini upaya terus dilakukan. Walaupun dalam tren beberapa tahun terakhir jumlah konsumsi ikan terus meningkat khususnya selama masa pandemi ini,'' katanya. 

Lanjut Utari, beberapa faktor yang menjadi penyebab masih rendahnya tingkat konsumsi ikan di Indonesia seperti kurangnya pengetahuan, supply chain yang masih rumit, dan infrastruktur. 

''Pertama kurangnya pengetahuan ya, lebih ke ikan itu masyarakat taunya kalau makan dibakar atau digoreng. Kedua, memang tidak semua daerah itu punya akses ke ikan dengan mudah. Jadi memang karena supply chain-nya yang agak rumit. Lalu, didorong juga soal infrastruktur dan lain-lain,'' tandasnya.   

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan Angka Konsumsi Ikan (AKI) Nasional tahun 2022 sebesar 59,53 kilogram per kapita setara ikan utuh segar. 

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti mengungkapkan, untuk mencapai target tersebut KKP terus menggencarkan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). 

Program ini terus digaungkan di 34 Provinsi di Indonesia, terutama wilayah yang memiliki tingkat stunting yang cukup tinggi. ''Untuk mencapai target AKI Nasional 2022, Ditjen PDSPKP kembali menyelenggarakan kampanye Gemarikan di 34 Provinsi dengan target sasaran yang diperluas termasuk rawan gizi dan stunting,'' imbuhnya. 

Berdasarkan catatan KKP, prognosa capaian angka konsumsi ikan nasional tahun 2021 sebesar 55,37 kg per kapita setara ikan utuh segar 

Sejalan dengan konsen peningkatan konsumsi ikan nasional, KKP menargetkan akselerasi peningkatan daya saing produk kelautan dan perikanan di tahun 2022. Untuk itu, Artati memastikan jajarannya telah menyiapkan sejumlah bantuan guna mencapai target tersebut. 

Bagi pengolah dan pemasar perikanan, KKP menyiapkan bantuan berupa 6 unit sarana pasca panen dan 2.000 unit coolbox. Selanjutnya ada juga 13 unit gudang beku portable, 6 unit  pabrik es serta 10 unit mobil refrigrasi (berpendingin) yang dipersiapkan di tahun 2022 ini. 

Tak hanya itu, Artati menyebut sistem informasi pasar ikan akan dibangun untuk mendukung implementasi program prioritas KKP. ''Kita juga sedang mempersiapkan pembangunan 1 unit gudang beku untuk memperkuat rantai pasok pelaku usaha,'' tuturnya. 

Selain itu, KKP menyiapkan bantuan berupa 250 unit peralatan pengolahan dan 300 unit chest freezer, serta ada juga 100 paket kemasan produk olahan guna menjaga kualitas produk yang dipasarkan dan meningkatkan nilai tambahnya. ''Belajar dari tahun lalu, bahwa bantuan-bantuan ini cukup efektif dalam mendukung perekonomian masyarakat perikanan, jadi tahun ini kita tingkatkan,'' pungkasnya. (tim redaksi) 

#konsumsiikan
#gemarmakanikan
#ikan
#kkp
#olahanikan

Tidak ada komentar