Breaking News

Politik Dinasti Warnai Kemenangan Pilpres Filipina, Bagaimana di Tanah Air?

Mantan senator Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr., putra mendiang diktator Ferdinand Marcos yang memenangi Pilpres Filipina ketika di Quezon City, Filipina pada 13 April 2022 lalu. Foto: Aaron Favila/AP

WELFARE.id-Lembaga Pemilu Filipina sudah memastikan kalau Pemilihan Presiden (Pilpres) negara itu dimenangi oleh bagi Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr., putra mantan diktator Ferdinand Marcos. 

Dikutip dari kantor berita AFP, Bongbong Marcos memperoleh lebih dari 56 persen suara atau lebih dari dua kali lipat jumlah penghitungan yang didapat oleh saingan terkuatnya, Leni Robredo yang maju dari jalur independen. 

Kemenangan Bongbong Marcos semakin memperkuat aroma dinasti politik yang merajalela di Filipina. Untuk diketahui sebelumnya, sejumlah nama seperti Presiden Gloria Macapagal Arroyo juga mengikuti jejak ayahnya, Diosdado Macapagal, menjadi presiden. 

Kemudian ada juga Presiden Benigno Aquino III yang ikut menjadi presiden mengikuti ibunya yang terlebih dahulu menjadi presdien yakni  Corazon Aquino.

"Oligarki dari dulu memainkan peran di sana (Filipina). Pilpres begitu cepat berganti, hanya dalam kurun 6 tahun dan masa jabatan presiden hanya boleh satu periode. Setiap dinasti memiliki wilayah kekuasaan sendiri dan kuat," terang Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Djayadi Hanan.

Menurut Djayadi, ada tiga faktor yang membuat dinasti politik di Filipina mendominasi, yakni kekuatan jaringan, logistik keuangan, dan loyalitas. 

Setiap dinasti politik di Filipina memiliki kekuatan jaringan yang luar biasa. Setiap dinasti masuk ke dalam sistem jaringan kekuasaan dari posisi tertinggi sampai yang terkecil.

"Jadi tidak hanya satu dua jabatan saja yang dipegang, sampai ke tingkat bawah mereka ada. Mereka menguasai logistik dan keuangan, keluarga dinasti ini terhubung secara terus-menerus dengan pemilik modal besar untuk menopang politik dinasti,” katanya juga. 

Djayadi mengatakan kalau keluarga Marcos terkenal dengan uangnya kuat apalagi bergabung dengan Duterte yang sedang berkuasa. ”Mereka juga memiliki pendukung loyal terutama masyarakat kelas menengah ke bawah dan ini selalu dijaga oleh setiap dinasti meskipun mereka tidak menjadi presiden saat itu," paparnya juga.

Bagaimana dengan Indonesia? pesta demokrasi Pemilihan Presiden (Pilpres) baru akan berlangsung pada 2024 mendatang. Sejumlah nama yang mulai digadang jadi calon presiden adalah anak dari presiden sebelumnya. 

Seperti Puan Maharani anak mantan Presiden Megawati sekaligus cucu Soekarno. Agus Harimurti Yudhoyono anak mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kemudian Prabowo Subianto pernah menjadi menantu mantan Presiden Soeharto.

Djayadi mengatakan tingkat demokrasi di Indonesia jauh lebih baik dari Filipina dan dinasti politik di Indonesia lebih kentara di tingkat lokal. "Di tingkat nasional belum masif," paparnya juga. 

Selain itu juga, menurut Djayadi juga, politisi yang menjadi bagian dari dinasti di Indonesia tidak memiliki tiga kekuatan sekaligus. Sumber dukungan dan hubungan dana dari pemodal besar bisa berpindah-pindah termasuk tidak ada dukungan sekuat loyalitas di Filipina. 

”Pemilu kali ini bisa mendukung, tapi pemilu selanjutnya belum tentu. Sumber dananya tidak ada terus-menerus di Indonesia. Seperti SBY dan AHY, tidak sekuat di Filipina. Termasuk keluarga Soeharto, Tommy sudah berapa kali mencalon dan membuat partai sendiri tapi gagal,” tandasnya juga. 

Jadi, katanya lagi, dinasti politik di Indonesia tidak sekuat yang ada di Filipina, karena kekuatan mereka tidak semasif yang ada di Filipina. ”Prabowo kuat tapi tidak dominan, AHY masuk 10 besar, Puan di luar 10 besar justru yang menonjol yang di luar dinasti seperti Ganjar dan Anies," paparnya.

Senada, peneliti politik dan kebijakan publik SMRC Saidiman Ahmad mengatakan bahwa di Indonesia dinasti politik tidak memberikan pengaruh yang besar dalam Pilpres 2024. Ini dilihat berdasarkan riset SMRC yang menunjukan calon-calon dari kelompok elite meskipun sudah melakukan promosi besar-besaran tidak menghasilkan persepsi yang cukup baik.

"Kita menemukan hasil survei yang mengejutkan, orang-orang kaya mapan promosinya kencang publik tidak tergerek. Sebaliknya publik anti terhadap mereka yang elite. Dinasti bukan bagian dari publik, SBY muncul karena ketokohannya, sama halnya dengan Jokowi, dikenal dekat dengan rakyat jelata," ujar Saidiman Ahmad. (tim redaksi)


#politik
#pemilihanpresiden
#pilpresfilipina
#dinastipolitik
#ferdinand’bongbong’marcosjr
#lenirobredo
#direkturlsi 
#djayadihanan

Tidak ada komentar