Breaking News

Normalisasi Penggunaan Masker, Ini Tanggapan IDI dan Epidemiolog

Presiden Jokowi melonggarkan aturan penggunaan masker di ruang terbuka. Foto : Dewi Maryani
 
WELFARE.id-Presiden Jokowi akhirnya menormalisasikan penggunaan masker di Ruang Terbuka. Pelonggaran ini dilakukan lantaran angka penularan COVID-19 mulai dapat terkendali oleh pemerintah. 

Keputusan ini pun mendapatkan dukungan penuh dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Djoerban mengatakan, keputusan Presiden RI mengenai pelonggaran masker adalah hal ang tepat. 

Zubairi menerangkan, ada beberapa alasan yang membuat IDI setuju dengan keputusan tersebut adapun alasannya adalah pertimbangan indicator penanganan pandemi COVID-19 yang angkanya sudah cukup baik.

''Keputusan yang tepat, berdasarkan data harian yang turun terus. Kemarin sempat naik, tapi hari ini turun lagi (kasus baru Covid-19) di bawah 300. Jadi, kasus baru turun banyak,'' ujarnya, dikutip Kamis (19/5/2022). 

Kedua, positivity rate juga sangat turun hingga kurang dari 3 persen. ''Keterisian rumah sakit rujukan juga kurang dari 3 persen, bahkan banyak rumah sakit yang kosong pasien COVID-19,'' tukasnya. 

Selain itu, kasus aktif COVID-19 terus mengalami penurunan. Disisi lain vaksinasi telah tinggi dan mungkin hampir seluruh warga Indonesia telah mendapatkan kebutuhan vaksinasi. 

Namun dalam hal ini Zubairi tetap memberikan catatan pasalnya meski telah terkontrol tetap ada kemungkinan kenaikan kasus COVID-19. Perkiraan ini diperhitungkan lantaran adanya kasus mudik Lebaran 2022 yang dihitung sejak awal bulan Ramadhan 2022. 'Kalau ada kenaikan dalam setengah atau sebulan lagi, harus dibuat PPKM lagi. Tapi, kemungkinan untuk itu sepertinya kecil,'' imbuhnya. 

Sementara itu, Epidemiolog Universitas Griffith Australia dr. Dicky Budiman mengatakan, kepurusan ini terbilang terburu-buru. ''Kalaupun outdoor itu tidak menjamin aman, karena harus disertai sirkulasi udara di tempat itu bagus,'' tandasnya. 

Ia mengatakan, apabila tubuh merasakan adanya embusan angin, bisa dipastikan kalau sirkulasi udara di area terbuka itu sudah relatif aman. Terlebih apabila area outdoor padat orang, ia tidak merekomendasikan masyarakat lepas masker karena dipastikan sirkulasi udara tidak baik. 

Menurutnya, pemerintah juga perlu membuat acuan kriteria boleh melepas masker. Bukan hanya kondisi kesehatan, tapi juga status vaksinasi dan karakter area terbuka. Karena ada juga outdoor atau bahkan indoor di mana orang-orang sudah divaksinasi penuh, itu bisa (lepas masker). 

Artinya harus disampaikan pada publik, sehingga pemerintah memiliki acuan. Harus memberikan informasi yang memadai kepada publik. Sehingga publik bisa menilai sendiri dalam situasi yang aman atau tidak untuk melepas masker,'' katanya. 

Bagaimanapun juga, lanjutnya, memakai masker jadi perubahan sikap paling mudah, murah, dan efektif dalam mencegah penularan penyakit yang ditularkan melalui udara seperti COVID-19. 

Sehingga, dalam pelonggaran aturan tersebut, masyarakat diingatkan harus berhati-hati. Juga jangan terlalu percaya diri berlebihan hingga membuat abai dan lalai yang bisa memicu kenaikan kasus positif.

''Walaupun sudah hooster, kan masih bisa terinfeksi, walaupun tidak bergejala dan tidak parah. Tapi, bila terinfeksi tanpa disadari karena tidak melakukan tes, kemudian membawa infeksi virus kepada orang dekat dan menyebabkan hal fatal, itu bisa saja terjadi,'' pungkasnya. (tim redaksi

#bebasmasker
#pelonggaranmasker
#prokes
#covid19
#idi
#epidemiolog

Tidak ada komentar