Breaking News

Low Tuck Kwong, Warga Singapura yang Kaya Raya Berkat Tambang di Indonesia

Low Tuck Kwong, pendiri Bayan Resources yang mengelola tambang di Kaltim. Foto: Istimewa

WELFARE.id-Bumi Indonesia yang kaya akan sumber daya alam bila dikelola dengan baik akan membuat kaya raya perusahaan yang mengelolanya. Itu dibuktikan oleh taipan batubara yang memiliki perusahaan di Kalimantan yang berasal dari Singapura, Low Tuck Kwong.

Hingga usianya yang menginjak ke-71, dia dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 7 di Indonesia oleh Forbes pada April 2022 lalu baru saja merilis jajaran orang paling berduit di Tanah Air pada 2022 ini. Dari daftar tersebut, sebanyak 21 orang Indonesia masuk dalam jajarannya. 

Di urutan ke-6 ada nama pendiri Bayan Resources, Low Tuck Kwong, dengan jumlah kekayaan USD3,9 miliar atau Rp54,6 triliun (asumsi kurs USD1=Rp14.000).

Sebelum dikenal sebagai pendiri Bayan Resources, layaknya orang sukses lainnya, Low Tuck Kwong harus melewati perjalanan hidup yang panjang. Low Tuck lahir di Singapura pada 17 April 1948 silam dari keluarga dengan basis bisnis konstruksi. Ayahnya, David Low Yi Ngo, merupakan pemilik perusahaan konstruksi di Singapura.

Low Tuck muda di usia 20 tahunnya memilih menimba ilmu di perusahaan ayahnya sebelum terjun mandiri di dunia bisnis. Tahun 1972, saat berusia 24 tahun kemudian Low Tuck pindah ke Indonesia mencoba peruntungan di bidang bisnis yang sama dengan sang ayah, yakni kontraktor bangunan.

Ia membuat perusahaan konstruksi yang khusus menangani pekerjaan umum, konstruksi bawah tanah hingga konstruksi bawah laut. Perusahaan konstruksi sipil ini kemudian mendapatkan kontrak batubara pada tahun 1988.

Sukses berbisnis di Tanah Air, pada 1992, Low Tuck memutuskan berpindah kewarganegaraan dari Warga Negara Singapura menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Lima tahun setelahnya, November 1997, Low Tuck mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal dan PT Dermaga Perkasapratama yang memiliki tambang. 

Setahun kemudian Low Tuck mengoperasikan terminal batubara di Balikpapan, Kalimantan. Sejak itu, Low Tuck mengakuisisi sejumlah konsesi baru hingga resmi membentuk perusahaan induk yang dikenal dengan nama PT Bayan Resources. 

Melalui sejumlah perusahaan, Bayan Group memiliki hak eksklusif melalui lima kontrak pertambangan dan tiga kuasa pertambangan dari pemerintah Indonesia. Total konsesinya mencapai 81.265 hektare.

Low Tuck sudah masuk jajaran orang terkaya versi Forbes selama bertahun-tahun. Pada 2009, Low Tuck berada di posisi ke-25. Jumlah kekayaannya pun terus bertambah dari tahun ke tahun. Jika pada 2008 kekayaannya diperkirakan USD214 juta, pada 2009 telah menjadi USD1,18 miliar. Kekayaannya bertambah karena saham Bayan Resources naik hingga 474 persen.

Bahkan, Low Tuck Kwong pernah berada di urutan ketiga orang terkaya di Indonesia oleh Forbes pada 2012 dengan total kekayaan USD3,6 miliar. Naik drastis dari USD1,2 miliar pada Maret 2010.

Berdasarkan laman resmi www.forbes.com, Low Tuck juga mengendalikan perusahaan pelayaran Singapura, Manhattan Resources. Pada 8 Oktober 2010 Low Tuck membeli 5,3 juta 
saham Manhattan Resources dari pasar terbuka, meningkatkan sahamnya menjadi 10,55 persen dari 9,36 persen. 

Sehari sebelumnya, ia telah membeli sekitar 1,8 juta saham perusahaan itu. Secara tidak langsung memegang saham 49,57 persen di perusahaan penyedia jasa kelautan tersebut.

Low Tuck juga memiliki kepentingan dalam The Farrer Park Company, Samindo Resources dan Voksel Electric. Low juga ada di belakang nama besar SEAX Global, yang membangun sistem kabel laut bawah laut untuk konektivitas internet yang menghubungkan Singapura, Indonesia dan Malaysia.

Pada Agustus 2008, Bayan Resources melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Bayan Resources melepas 3,33 miliar unit saham di harga Rp5.800 per saham. Namun, sebelum sampai pada kesuksesan ini, perjalanan bisnis Low Tuck tidak selalu mulus. 

Ia sempat berkonflik dengan Sukamto Sia, taipan dari Singapura yang merupakan menantu eks pemilik Bank Bira, Atang Latief. Sebelum Bayan Resources melakukan IPO Agustus 2008, Bayan Resources dan Low Tuck menerima somasi dari Sukamto pada Juli 2008. Sukamto menyebut Low telah ingkar janji ihwal pemberian 50 persen saham Bayan Resources. 

Sukamto menganggap Low Tuck harus memberi kompensasi atas pinjaman yang dia berikan kepada Low pada tahun 1996.
Mulanya, Sukamto mengaku diajak Low berinvestasi bisnis batubara di Indonesia. Sukamto menyatakan saat itu Low sedang kesulitan keuangan. 

Menurut Sukamto, Low Tuck menjanjikan bisnis batu bara itu bisa bernilai USD500 juta dalam tempo tujuh tahun sampai delapan tahun ke depan. Kasus ini diserahkan ke Pengadilan Singapura.

Kemudian, Pengadilan Singapura tahun 2015 menyatakan Low Tuck memenangi sengketa. Hakim Pengadilan Tinggi Singapura memerintahkan Sukamto membayar USD80.000 dollar kepada Low Tuck, karena telah mencemarkan nama baiknya.

Low Tuck balik menggugat Sukamto atas tudingan mencemarkan nama baik. Low menuntut USD132 juta dari Sukamto. Pengadilan Tinggi Singapura memenangkan gugatan Low dan denda tambahan USD280 ribu kepada Sukamto Sia.

Berdasarkan informasi situs resmi PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Dato Dr. Low Tuck Kwong kini menjadi pemegang saham pengendali dengan persentase 51,59 persen. Ia diangkat menjadi Direktur Utama di sebagian besar anak perusahaan Bayan Group sejak 10 Januari 2018.

Low Tuck pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Bayan Resources Tbk (2004-2008), Komisaris Utama PT Bayan Resources Tbk (2008-2018) dan anggota Komite Remunerasi dan Nominasi (2016-2018).

Low Tuck Kwong juga dianugerahi gelar Doktor HC dari Universitas Notre Dame of Dadiangas, Filipina pada tanggal 17 Maret 2012 dan memiliki Diploma di bidang Teknik Sipil dari Japan Institute. (tim redaksi)


#perusahaantambang
#ptbayanresources
#kalimantan
#kaltim
#lowtuckkwong
#wnsingapura
#pemegangkonsesitambang
#batubara
#forbes

Tidak ada komentar