Breaking News

Lin Che Wei Bukan Sosok Sembarangan, Pernah Jadi CEO dan Stafsus di Kementerian

Lin Che Wei. Foto: Istimewa/ Net

WELFARE.id-Lin Che Wei telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait izin ekspor CPO.  Lin Che Wei bukan orang sembarangan. 

Ia memang memiliki rekam jejak yang panjang di sektor perekonomian. Tercatat, Lin Che Wei mengawali kariernya sebagai analis keuangan di beberapa perusahaan asing. 

Pada 2005 sampai pertengahan 2007, ia menjabat sebagai Presiden Direktur dari Danareksa. Pada 2008, Lin Che Wei mendirikan perusahaan riset dengan fokus analisis kebijakan dan analisis industri, yakni PT Independent Research Advisory Indonesia. 

Tak hanya itu, ia sempat menjadi staf khusus sejumlah menteri. Pada 2014, Lin Che Wei menjabat anggota tim asistensi di Kementerian Koordinator Perekonomian. 

Jabatan serupa juga dipegangnya di Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian ATR/BPN. Diberitakan, Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkapkan, dugaan persekongkolan yang dilakukan Lin Che Wei dengan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana dalam kasus tersebut.

"Tersangka (Lin Che Wei) di dalam perkara ini diduga bersama-sama dengan IWW selaku Dirjen Perdagangan Luar Negeri telah mengondisikan produsen CPO untuk mendapatkan izin persetujuan ekspor CPO dan turunannya secara melawan hukum,” kata Burhanuddin dalam keterangan pers melalui video, diterima Selasa (17/5/2022).

Menurut Burhanuddin, seharusnya pemberian izin ekspor CPO harus memenuhi ketentuan domestic market obligation (DMO) sebesar 20 persen. Atas dasar itu, Lin Che Wei ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Lin Che Wei diduga bersekongkol dengan tersangka utama yakni Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana. Penetapan tersangka atas Lin Che Wei ini berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print-26/F.2/Fd.2/05/2022 tanggal 17 Mei 2022 dan Surat Penetapan Tersangka (PIDSUS-18) Nomor: TAP-22/F.2/Fd.2/05/2022 tanggal 17 Mei 2022. 

Dilansir dari laman Ensiklopedia Universitas Stekom Pusat, Lin Che Wei merupakan seorang ekonom terkemuka Indonesia yang memulai kariernya sebagai analisis keuangan seperti WI Carr, Deutsche Bank Group dan Societe Generale. Lin Che Wei lahir di Bandung pada 1 Desember 1968, kini berusia 53 tahun.

Ia dikenal dalam membongkar skandal Bank Lippo yang membuatnya berurusan dengan pengadilan dan dituntut sebesar Rp103 miliar oleh Lippo Group. Kasus ini membawa Lin Che Wei mendapatkan penghargaan Tasrif Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 2003.

Selain itu, Lin Che Wei juga merupakan penerima penghargaan Indonesian Best Analyst dari Asia Money Magazine dan The Most Popular Analyst Award pada 2002 dan 2004. Pada 2005 hingga 2007, Lin Che Wei menjabat sebagai Presiden Direktur Danareksa. 

Pada 2007 dan 2008, Lin Che Wei menjabat sebagai CEO dari Putera Sampoerna Foundation yang merupakan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan yang didirikan oleh Putera Sampoerna. Lin Che Wei juga mendirikan perusahaan riset yang berfokus pada Analisis Kebijakan dan Analisis Industri Independent Research Advisory Indonesia.

Tak hanya berkarier di perusahaan swasta, Lin Che Wei juga berkecimpung di pemerintahan. Lin Che Wei pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Negara BUMN Sugiharto dan Staf Khusus Menko Perekonomian Aburizal Bakrie. 

Pada 2014, Lin Che Wei menjadi Policy Advisor dari Menko Perekonomian Sofyan Djalil dan menjadi Policy Advisor Menteri PPN/Bappenas dan Menteri ATR/BPN dan policy advisor Menko Perekonomian Darmin Nasution. Posisi sebagai penasihat menteri tersebut masih berlangsung hingga sekarang.

Dalam kontestasi Pilpres 2014, Lin Che Wei menyatakan dukungannya terhadap Jokowi yang kala itu berpasangan dengan Jusuf Kalla. Dalam konferensi pers bertajuk 'Manifesto Rakyat yang Tak Berpartai' pada akhir Mei 2014, Lin Che Wei menilai Jokowi sebagai orang yang tepat menjadi pemimpin Indonesia.

"Saya yakin memilih Jokowi karena lebih superior. Karena dalam penanganan pedagang kaki lima (misalnya), Jokowi memutuskan untuk menata ketimbang menertibkan. Dia (Jokowi) cenderung memimpin, bukan memerintah. Kemudian juga, Jokowi (itu) sosok yang peduli," lanjutnya. (tim redaksi)

#linchewei
#kasusdugaantipikor
#kasusmafiaminyakgoreng
#kasusdugaankorupsiizineksporcpo
#analisekonomi
#tahanankejagung

Tidak ada komentar