Breaking News

IDAI Tegaskan Hepatitis Akut Tak Terkait Vaksin COVID-19

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Baru reda dengan Pandemi COVID-19, kini masyarakat dihadapkan dengan adanya kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak di beberapa negara, termasuk Indonesia. 

Beredar kabar di masyarakat bahwa penyakit tersebut akibat vaksin COVID-19. Menanggapi hal itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan penyebab hepatitis akut pada anak tidak ada kaitannya dengan vaksinasi COVID-19. 

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastro-Hepatologi IDAI dr Muzal Kadim mengatakan, pada kasus hepatitis akut yang terjadi pada anak umumnya terjadi pada anak usia di bawah 6 tahun yang belum mendapatkan vaksin COVID-19. 

''Sampai saat ini hepatitis jenis ini tidak dikaitkan dengan vaksin covid. Karena sebagian besar dari kasus yang muncul saat ini justru terjadi pada anak yang belum vaksin, kebanyakan yang terjangkit adalah anak di bawah umur 6 tahun, bahkan ada yang 2 tahun ke bawah pada kasus di UK,'' ujarnya, dikutip Senin (9/5/2022). 

Ia mengatakan, hal itu masih dalam kategori dugaan apakah kejadian tersebut terjadi secara bersamaan (coincidence) atau sebagai penyebab langsung. ''Kalau history dengan COVID saat ini juga masih diduga berkaitan, tapi masih dugaan. Karena selama ini covid tidak pernah menimbulkan gejala seperti hepatitis akut berat ini,'' tambahnya. 

Dia menjelaskan, terkadang terjadi kasus di mana secara bersamaan pada pasien ditemukan memiliki virus SARS-CoV-2 dan adenovirus, yang diduga menyebabkan hepatitis akut bergejala berat tersebut. ''Namun semua ini masih dugaan, sampai saat ini WHO maupun beberapa negara juga melakukan investigasi penyebab pastinya,'' tuturnya. 

Pernyataan serupa juga disampaikan Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Hanifah Oswari. Dia berpendapat, belum ada bukti yang menunjukkan langsung hubungan vaksin COVID-19 memicu hepatitis akut. COVID-19 sendiri kata dia belum terbukti langsung menjadi penyebab virus ini. 

''Mungkin itu kejadian yang bersamaan tapi bukan sebagai penyebab langsungnya. Karena itu menghubungkan virus COVID sendiri dengan penyakitnya sendiri belum bisa ditentukan, apalagi dengan vaksin COVID-nya. Karena itu berita itu perlu diluruskan,'' katanya. 

Hanifah mengatakan, ada dua virus yang diduga berada di balik penyakit yang telah ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai Kejadian Luar Biasa ini, yaitu Adenovirus tipe 41, SARS-CoV-2 atau Covid-19, Cytomegalovirus atau CMV, serta Virus Epstein-Barr atau EBV. 

Meski begitu, dia mengingatkan, etiologi virus ini masih belum diketahui kongkritnya termasuk hubungan langsung virus corona membuat munculnya hepatitis akut. Dengan demikian, dia menekankan Covid-19 belum dipastikan menjadi penyebab hepatitis akut, apalagi vaksin COVID-19. 

Epidemiolog dari Universitas Griffith Dicky Budiman juga telah menanggapi isu mengenai penyakit hepatitis akut dipicu oleh vaksin COVID-19. Menurut dia, pendapat ini tak didukung fakta ilmiah. ''Jadi sejauh ini tidak ada fakta atau argumen ilmiah yang menguatkan bahwa ini disebabkan oleh vaksin,'' tukasnya. 

Isu mengenai Hepatitis Akut yang berasal dari Inggris Raya ini bahkan di beberapa negara seperti di Eropa disebut akibat kebijakan lockdown, bukan seperti di Indonesia yang diisukan akibat vaksinasi COVID-19. Oleh sebab itu, menurut dia anggapan ini sangat lemah. 

Dicky menganggap, berdasarkan hipotesa ilmiah yang dikeluarkan peneliti-peneliti global, hepatitis akut misterius ini cenderung memang dampak lanjutan dari infeksi Pandemi COVID-19, yang dari awal juga terdeteksi turut menyerang hati atau hepa pasiennya. 

''Jadi saya sendiri tidak melihat kecenderungan ini akibat vaksin, enggak, itu teori yang sangat lemah dan cenderung salah. Tapi mitigasinya tetap mencegah infeksi antara lain ya vaksin sebagai proteksi,'' imbuhnya. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika, dan Asia sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Belum diketahui secara pasti apa penyebab penyakit ini. 

Pemeriksaan laboratorium menunjukkan virus hepatitis tipe A, B, C, D, dan E tidak ditemukan sebagai penyebab penyakit hepatitis akut ini. Namun, terdeteksi adenovirus F tipe 41 pada 74 kasus di luar negeri. Hepatitis akut, mengutip dari laman euro.who.intl, jarang terjadi pada anak-anak. Tetapi, WHO telah menerima setidaknya ratusan kemungkinan kasus hepatitis anak yang tengah diselidiki. (tim redaksi) 

#kesehatan
#hepatitis
#hepatitisakut
#hepatitismisteriua
#idai
#hepatitispadaanak

Tidak ada komentar