Breaking News

Harga Minyak dan Batu Bara Melejit, INSA Minta Lakukan Penyesuaian Tarif

Industri pelayaran. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Pelaku usaha pelayaran nasional meminta adanya penyesuaian freight untuk angkutan di sektor energi, meliputi  batu bara, minyak dan gas, juga sektor angkutan penunjang offshore. Penyesuaian perlu dilakukan seiring dengan melambungnya harga minyak, gas, dan batu bara dunia dalam setahun terakhir ini.

Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowner's Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dan batu bara di pasar internasional telah berdampak pada harga BBM dalam negeri termasuk untuk kapal laut. Hal ini mengakibatkan meningkatnya biaya operasional pelayaran niaga, karena biaya BBM merupakan komponen biaya yang paling besar (30%-40%) dalam struktur operasional kapal.

Meski harga BBM kapal sudah naik, harga freight untuk angkutan laut pada sektor energi (minyak, gas, dan batu bara) di dalam negeri belum mengalami penyesuaian. Justru harga freight untuk angkutan laut luar negeri yang sudah lebih dulu terjadi penyesuaian dengan market freight internasional.

"Selain harga BBM, kini beban pelayaran kian bertambah karena terjadi kenaikan tarif di jasa kepelabuhanan. Ini berdampak pada sektor angkutan peti kemas dan general cargo. Untuk angkutan curah, minyak, gas, dan penunjang lepas pantai memang belum ada penyesuaian freight pelayaran sekarang," ujar Carmelita dalam keterangannya resminya, dikutip Senin (16/5/2022).

Kondisi ini berbanding terbalik saat terjadi penurunan harga minyak mentah dan batu bara beberapa waktu lalu. Di mana perusahaan minyak, gas, dan batu bara serta merta melakukan penyesuaian harga freight agar lebih kompetitif menyesuaikan kondisi yang terjadi. 

Mau tidak mau perusahaan pelayaran harus menyesuaikan harga freight daripada perusahaan pengguna jasa melakukan early termination contract secara sepihak. Dengan perusahaan pelayaran melakukan penyesuaian harga tersebut, revenue pelayaran nasional mengalami penurunan, sedangkan di sisi lain biaya operasional kapal meningkat.

Sehingga banyak perusahaan pelayaran mengalami kesulitan cashflow. WKU II DPP INSA Darmadi Go mengatakan, kondisi ini berdampak pada perusahaan pelayaran yang harus mengajukan permohonan untuk melakukan restructure loan dengan pihak bank.

Karena penurunan revenue berdampak pada kemampuan cashflow operasional perusahaan untuk membayar kewajiban kepada bank. Ditambah lagi dengan term pembayaran yang tertunda.

"Seiring naiknya harga minyak, gas, dan batubara idealnya harga freight angkutan laut disesuaikan dan atau paling tidak penyesuaian harga freight-nya dikembalikan kepada kontrak awal, yang mana telah ditetapkan melalui proses tender secara terbuka,” sarannya.

Ditambahkan WKU I DPP INSA Darmansyah Tanamas, meski harga minyak dan batu bara terus mengalami bulan madu namun pelayaran nasional tidak ikut menikmati. Freight pelayaran tidak mengalami perubahan yang signifikan, karena tidak ada penyesuaian tarif angkutan dari SKK Migas maupun dari perusahaan penambang minyak dan batubara selaku mitra kerja pelayaran nasional.

"Seharusnya kita saling terbuka dan menghargai isi kontrak dengan prinsip kesetaraan. Terutama dalam melakukan penyesuaian harga freight pada angkutan minyak, gas dan batu bara,” harapnya.

Minyak mentah dunia merupakan komoditas yang mengalami fluktuasi harga tajam di saat pandemi. Sempat tertekan di awal pandemi, harga minyak mentah dunia perlahan terus merangkak naik di 2021.

Minyak jenis Brent melesat 50,12% sepanjang 2021, sedangkan pada jenis light sweet (West Texas Intermediate/WTI) harganya melonjak 55%. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi sejak 2016 silam. 

Penguatan harga minyak mentah dunia terus berlanjut hingga 2022. Hal yang sama terjadi komoditas batu bara. (tim redaksi)

#industripelayarannasional
#asosiasipemilikkapal
#hargakomoditasminyakbumi
#hargabatubara
#hargagasbumi
#freight
#penyesuaianbiayaangkut

Tidak ada komentar