Breaking News

Dua Penyakit Ini Penyebab Kematian Tertinggi Jemaah Haji, Sebaiknya Jangan Lakukan Ini saat Ibadah

Jemaah haji Indonesia. Foto: Istimewa/ Dok.Setkab

WELFARE.id-Udara panas di Arab Saudi saat musim haji menjadi perhatian serius bagi calon jemaah haji asal Indonesia. Khususnya, bagi mereka yang memiliki komorbid dan lanjut usia (lansia).

Jemaah haji Indonesia diminta memperhatikan kesehatan selama pelaksanaan ibadah haji 2022. Sebab, puncak haji tahun ini terjadi pada Juli, saat cuaca di Arab Saudi cukup panas diprediksi mencapai 40 derajat Celcius. 

Dari data sebelumnya, angka kematian jemaah haji Indonesia saat ibadah di Tanah Suci terbilang cukup tinggi. Ada dua penyebab kematian tertinggi jemaah haji Indonesia. 

"Dua penyakit penyebab kematian tertinggi adalah kardiovaskuler dan respiratory disease. Namun ada faktor lain juga, misalnya kelelahan menjadi faktor utama penyebab kematian jemaah," kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Budi Sylvana di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, dikutip Jumat (20/5/2022). 

Menurut catatannya, angka kematian jemaah haji Indonesia dalam 10 tahun terakhir relatif tinggi mencapai 2 per mil atau sekitar 2 kematian per 1.000 jemaah. Dengan kuota jemaah sekitar 220.000 pada 2019, maka sekitar 300-400 jemaah yang meninggal per tahun. 

Angka kematian jemaah haji Indonesia lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang mencapai 1 per mil dan India 0,3 per mil. Pemerintah menargetkan menurunkan angka kematian jemaah haji menjadi 1 per mil di tahun ini atau sekitar 1 kematian per 1.000 jamaah haji.

Untuk itu, jemaah haji perlu diedukasi agar tidak memaksakan ibadah yang berlebihan, terutama bagi mereka yang punya komorbid sebelum puncak haji. "Maka saya minta edukasi jemaah kita. Kenapa banyak yang tumbang saat wukuf? Setelah kita gali banyak jamaah sebelum wukuf melakukan aktivitas yang berlebihan," ulasnya. 

Pihaknya meminta khususnya bagi para petugas haji layanan kesehatan untuk mengedepankan fungsi edukasi dan promotif, khususnya kepada jemaah haji yang sudah memiliki komorbid dan masuk sebagai jamaah haji risiko tinggi (risti). Dengan begitu kondisi fisik mereka terjaga, sehingga mudah-mudahan kondisi kesehatan jamaah pun bisa terjaga sampai nanti pulang ke Tanah Air," harapnya. 

Di tempat yang sama, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo memberikan pesan khusus kepada tim Media Center Haji (MCH) 1443 H/2022 M. Ia meminta tim MCH tidak bosan memberikan informasi edukatif terkait penyelenggaraan ibadah haji kepada jamaah. 

"Edukasi dan utamakan jemaah. Kita semua adalah petugas," kata Wibowo. Edukasi ini sangat penting, lanjutnya, karena jemaah Indonesia sangat beragam, baik tingkat usia, pendidikan, bahkan pengalaman bepergian. 

Kebiasaan mereka juga berbeda-beda. "Terkait pola makan, misalnya. Dalam kemasan katering akan tertulis batas maksimal waktu makan. Sementara sebagian jemaah ada yang punya kebiasaan menunda waktu makan, sehingga ada potensi katering dikonsumsi di luar jam yang ditentukan. Nah, ini perlu edukasi bersama," ujarnya. 

Begitu juga edukasi agar jemaah haji teratur mengonsumsi air minum,  agar tidak terkena dehidrasi saat beribadah. (tim redaksi)

#ibadahhaji2022
#musimhaji2022
#mekah
#arabsaudi
#kesehatanjemaahhaji
#dehidrasi
#cuacapanas
#komorbid
#lansia

Tidak ada komentar