Breaking News

Dolar AS Kian Perkasa, Imbas Kekhawatiran Investor Global

Dolar AS. Foto: Ilustrasi/ AFP

WELFARE.id-Dolar AS kian perkasa. Mata uang Amerika Serikat itu naik ke level tertinggi baru dalam 20 tahun, pada perdagangan Jumat (13/5/2022) pagi WIB.

Hari ini, dolar AS mencapai Rp14.643. Keperkasaan dolar berlanjut, akibat adanya kekhawatiran bahwa tindakan bank sentral untuk menurunkan inflasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi global. 

Sehingga, para spekulan meningkatkan daya tarik mata uang sebagai safe-haven. Melansir Reuters, Jumat (13/5/2022), indeks dolar naik 0,798 persen pada 104,840 setelah menyentuh 104,92, level tertinggi sejak 12 Desember 2002. 

Euro jatuh 1,38 persen menjadi 1,0366 dolar setelah jatuh ke 1,0352 dolar, terendah sejak 3 Januari 2017. Setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan overnight sebesar 50 basis poin minggu lalu, kenaikan terbesar dalam 20 tahun terakhir terjadi. 

Investor telah mencoba untuk menilai seberapa agresif jalur kebijakan bank sentral nantinya.  Gubernur Bank Sentral Irlandia Gabriel Makhlouf bergabung dengan paduan suara pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa yang menyerukan Dewan Gubernur untuk bertindak mengatasi inflasi, meskipun tidak harus pada kecepatan yang sama dengan The Fed.

Investor telah condong ke aset safe-haven seperti dolar karena kekhawatiran telah meningkat tentang kemampuan Fed untuk menekan inflasi tanpa menyebabkan resesi, serta dampak dari perang di Ukraina dan meningkatnya kasus COVID-19 di Tiongkok yang melemahkan permintaan. Kekhawatiran tentang lingkungan stagflasi yang berkepanjangan dari pertumbuhan yang lambat dan harga yang tinggi juga telah mengurangi selera risiko.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan kepada Komite Jasa Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat AS bahwa Fed dapat menurunkan inflasi tanpa menyebabkan resesi karena pasar kerja AS dan neraca rumah tangga yang kuat, biaya utang yang rendah dan sektor perbankan yang kuat. 

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengungkapkan hal senada. Biang keladi pelemahan rupiah adalah indeks dolar AS yang kembali melanjutkan penguatan dengan berada di level 104, atau tertinggi dalam 20 tahun terakhir. 

Hal tersebut merespons rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS bulan April yang masih tinggi. Adapun, data CPI AS bulan April secara tahunan berada di 8,3%. 

Sejatinya, angka ini masih lebih kecil dari bulan sebelumnya yang sebesar 8,5%. Hanya saja, angka tersebut masih di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan inflasi akan berada di level 8,1%. 

"Pasar pun mengekspektasikan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps lagi pada bulan Juni mendatang. Alhasil pasar pun risk off dan menjauhi aset berisiko yang membuat rupiah mengalami pelemahan,” jelasnya, melansir Kontan.co.id, Jumat (13/5/2022).

Sementara untuk hari ini, Alwi menyebut pasar akan menantikan rilis data inflasi AS versi Producer Price Index (PPI). Sejauh ini, konsensus memperkirakan angkanya akan melunak dengan hanya naik 0,5% secara bulanan. 

Angka tersebut jauh lebih rendah dari data bulan sebelumnya yang sebesar 1,4%. Menurut dia, jika ternyata angka yang dirilis lebih tinggi dari ekspektasi pasar, maka bisa kembali mendorong penguatan dolar AS karena ekspektasi kebijakan agresif The Fed akan semakin menguat. 

Maka, rupiah pun akan mengalami pelemahan dengan kondisi tersebut. Alwi memproyeksikan, rupiah akan bergerak pada rentang Rp14.510 per dolar AS-Rp14.750 per dolar AS untuk perdagangan hari ini. (tim redaksi)

#perdagangandolaras
#matauangdolar
#dolarasperkasa
#kebijakanthefed
#pelemahanrupiah
#asetsafehaven
#inflasi
#perangrusiaukraina
#covidditiongkok
#investorglobal

Tidak ada komentar