Breaking News

Anggota DPR Berharap Lin Che Wei Jadi Pintu Gerbang Pengungkapan Kasus Dugaan Mafia Migor

Tersangka kasus dugaan mafia minyak goreng Lin Che Wei. Foto: Istimewa

WELFARE.id-Kasus dugaan korupsi izin ekspor crude palm oil (CPO) alias mafia minyak goreng terus bergulir di Kejaksaan Agung. 

Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, mengapresiasi langkah Kejaksaan Agung (Kejagung) yang telah menetapkan Lin Che Wei (LCW) sebagai tersangka baru kasus dugaan korupsi izin ekspor crude palm oil (CPO) atau kasus mafia minyak goreng.

Andre meminta Jaksa Agung, ST Burhanuddin dan jajarannya terus menelusuri kasus tersebut. Sebab menurutnya, dari tersangka LCW ini, bisa menjadi pintu masuk bagi Kejagung untuk mengusut tuntas mafia minyak goreng.

"Kan tidak mungkin manajernya ngambil keputusan. Harusnya harapan kita, dengan penangkapan LCW ini menjadi pintu masuk, karena kita tahu yang bersangkutan adalah konsultan,” ujar Andre dalam diskusi bertajuk "Bagaimana Sikap DPR Menghadapi Mafia Migor" di Media Centre DPR, Gedung DPR, dikutip Sabtu (21/5/2022).

Kejagung, kata Andre perlu menyelusuri pihak di balik tersangka, sehingga bisa masuk ke Kementerian Perdagangan. Menurut dia, Kejagung pasti mendapatkan dukungan masyarakat Indonesia untuk membongkar kasus ini sampai ke akar-akarnya.

"Siapa yang mengutus LCW sampai ke Kemendag, siapa yang memodali dia, ini harus ditelusuri. Harapan kita bukan hanya manajer, senior manajer tetapi kalau memang ada bukti tidak ada salahnya dan saya rasa seluruh rakyat Indonesia mendukung Jaksa Agung untuk dugaan tersangka terhadap korporasi terhadap oligarki dan bukan hanya korporasinya saja,” tegasnya.

Lin Che Wei diketahui pernah menjabat sebagai tim asistensi (policy advisor) sejak 2014. Sebagai policy advisor, Lin Che Wei ikut terlibat dalam formulasi kebijakan, seperti pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) dan pembentukan industri biodiesel berbasis kelapa sawit, penanganan kebakaran hutan dan lahan (2017), studi dan formulasi kebijakan pemerataan ekonomi (2017-2019), dan verifikasi luas lahan kelapa sawit di Provinsi Riau melalui kerja sama dengan Ditjen Perkebunan dan PTPN V.

Selain itu, Lin Che Wei yang merupakan ekonom memulai kariernya sebagai analis keuangan di beberapa perusahaan asing antara lain WI Carr, Deutsche Bank Group dan Société Générale. Pada 2003, Lin Che Wei mendirikan perusahaan riset yang berfokus pada Analisis Kebijakan dan Analisis Industri di bawah bendera PT Independent Research Advisory Indonesia (IRAI). 

Lin Che Wei mulai terlibat di dunia pemerintahan setelah menjadi panelis di debat calon presiden pada 2003. Ia kemudian menjadi sekretaris tim perundingan antara pemerintah Indonesia dengan Exxon di dalam mencari penyelesaian ladang minyak di Cepu yang berhasil diselesaikan pada 2006.

Lebih lanjut, menurut Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Febrie Adriansyah, tersangka LCW sudah terlibat dalam pembahasan kebijakan ekspor CPO di Kementerian Perdagangan (Kemendag) sejak Januari 2022. Meski terlibat dalam pembahasan kebijakan tersebut, Febrie mengungkapkan, ternyata Lin Che Wei tidak termasuk dalam struktur formal pada Kemendag. 

Oleh sebab itu, ia menuturkan saat ini peran LCW tengah didalami oleh pihaknya. Sebelumnya juga, Jaksa Agung ST Burhanuddin menjelaskan, LCW merupakan swasta yang direkrut Kementerian Perdagangan (Kemendag) tanpa surat keputusan maupun kontrak tertentu.

Ia melihat, ada dugaan persekongkolan yang dilakukan Lin Che Wei dengan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Perdaglu Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana dalam kasus korupsi CPO.

"Tersangka (Lin Che Wei) di dalam perkara ini diduga bersama-sama dengan IWW selaku Dirjen Perdagangan Luar Negeri telah mengondisikan produsen CPO untuk mendapatkan izin persetujuan ekspor CPO dan turunannya secara melawan hukum,” ungkapnya.

Padahal seharusnya, pemberian izin ekspor CPO harus memenuhi ketentuan domestic market obligation (DMO) sebesar 20%. Atas dasar itu, Lin Che Wei ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Atas perbuatannya itu, Lin Che Wei disangka melanggar Pasal 2 juncto Pasal 3 juncto Pasal 18 UU 31/1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU 20/2001 tentang Perubahan atas UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dengan demikian, sudah ada lima tersangka yang ditetapkan sebagai tersangka di kasus tersebut. Sebelumnya, Kejagung menetapkan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Indrasari Wisnu Wardhana (IWW) sebagai tersangka untuk kasus dugaan korupsi dalam pemberian izin ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah dan turunannya.

Kejagung juga menetapkan tiga tersangka lainnya yakni Senior Manager Corporate Permata Hijau Group, Stanley MA (SMA); Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia, Master Parulian Tumanggor (MPT); dan General Manager bagian General Affair PT Musim Mas, Pierre Togar Sitanggang (PTS). (tim redaksi)

#linchewei
#kasusdugaanmafiaminyakgoreng
#kasusdugaantipikor
#jaksaagung
#stburhanuddin
#konsultanswasta
#anggotadprri
#andrerosiade

Tidak ada komentar