Breaking News

Sri Lanka Bangkrut, Pemerintah Minta Bantuan Warganya yang Tinggal di Luar Negeri

Puluhan ribu warga Sri Lanka demo untuk memprotes krisis ekonomi dan politik yang makin parah. Foto : instagram @raeesulhaq

WELFARE.id-Sri Lanka sedang dilanda krisis ekonomi besar sehingga menyebabkan kebangkrutan. Dalam berita terbaru, pemerintah mendesak warganya di luar negeri untuk mengirimkan uang ke rumah guna membantu membayar makanan dan bahan bakar yang semakin melambung harganya menyusul krisis politik dan ekonomi yang kian memburuk. 

Imbauan itu diterapkan Kolombo menyusul kegagalan pemerintahan Presiden Gotabaya Rajapaksa bangkrut hingga gagal membayar utang luar negeri senilai USD51 miliar atau sekitar Rp732 triliun setelah kehabisan devisa untuk mengimpor barang pokok. 

Gubernur Bank Sentral, Nandalal Weeresinghe mengatakan, negara membutuhkan diaspora dan warga Sri Lanka di luar negeri untuk mendukung negara pada saat yang genting ini dengan menyumbangkan devisa yang dibutuhkan. 

Weeresinghe menuturkan pemerintah telah membuka rekening bank untuk sumbangan dari warga di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. ''Bank Sentral akan memastikan bahwa transfer mata uang asing tersebut akan digunakan hanya untuk impor kebutuhan pokok termausk makanan, bahan bakar, dan obat-obatan,'' ujarnya dikutip Jumat (15/4/2022). 

Seruan itu pun disambut skeptisme dari warga Sri Lanka di luar negeri. ''Kami tidak keberatan membantu, tetapi kami tidak dapat mempercayai pemerintah dengan uang tunai kami,'' kata seorang warga Sri Lanka yang bekerja sebagai dokter di Australia kepada AFP. 

Selama ini, sebagian besar sumbangan dan bantuan asing yang telah diberikan kepada Sri Lanka dikabarkan berakhir di kantong para politikus, termasuk sang presiden sendiri. 

Presiden Rajapaksa bahkan terpaksa mengembalikan dana bantuan bencana tsunami dari asing yang sempat dipinjamkan ke rekening pribadinya. 

Sri Lanka tengah menghadapi krisis besar mulai dari ekonomi hingga politik karena pinjaman yang melambung dan salah kaprah mengelola finansial negara. Pengamat mengatakan akar krisis negara di Asia Selatan itu karena pemerintah yang tak becus urus ekonomi sehingga menciptakan defisit dan kekurangan anggaran. 

Puluhan ribu warga Sri Lanka menggeruduk kantor kepresidenan untuk memprotes krisis ekonomi dan politik yang makin parah. Mereka juga menuntut Presiden Rajapaksa mundur. 

Protes ini disebut-sebut sebagai aksi terbesar sejak krisis mencekik Sri Lanka sejak Maret lalu. Para warga beramai-ramai mengepung kantor kepresidenan di Ibu Kota Sri Lanka, Kolombo. 

Mereka mengibarkan bendera nasional dan berulang kali berteriak, "Pulang, Gota!" merujuk pada Gotabaya. (tim redaksi) 

#srilanka
#srilankabangkrut
#kolombo
#krisisekonomi
#gagalbayarutangluarnegeri

Tidak ada komentar