Breaking News

Rencana Kenaikan Harga Solar, Sindikat Penimbun BBM Mulai Beraksi

Penimbun solar. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Rencana kenaikan solar dan pertalite mengundang sindikat kejahatan untuk menimbun dua jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) tersebut. Di sejumlah daerah, polisi berhasil menangkap para pelaku penimbun solar dan pertalite.

Dua orang terduga pelaku penimbun BBM solar subsidi di kawasan Desa Karang Anyar, Kecamatan Darul Makmur, misalnya, telah diamankan Petugas Kepolisian Resor (Polres) Nagan Raya, Provinsi Aceh. 

"Penangkapan kedua pelaku setelah polisi mendapatkan laporan dari masyarakat terkait adanya dugaan penimbunan BBM solar subsidi di sebuah lokasi," AKBP Setiyawan Eko Prasetya, Kapolres Nagan Raya diwakili Kasat Reskrim AKP Machfud, Rabu (13/4/2022) malam.

Dua pelaku yang sudah diamankan berinisial DW dan BL. Keduanya warga Kabupaten Aceh Barat Daya dan Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh.

Dari lokasi penangkapan, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya satu fiber warna putih ukuran 1.000 L, satu jeriken berisi BBM solar 32 L, lima jeriken kosong ukuran 32 L, satu timbangan kapasitas 150 kg, dua corong ukuran besar, satu mesin pompa penyedot minyak, dan satu selang air ukuran 5 L. 

Ia menambahkan, pengungkapan kasus itu berlangsung setelah kepolisian mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa ada sebuah mobil pikap bernomor polisi BL 8202 KF diduga sering membawa minyak subsidi jenis biosolar dari Kabupaten Aceh Barat Daya ke Kabupaten Nagan Raya.

Berdasarkan keterangan pelaku, kata dia, mereka telah melakukan penimbunan BBM solar bersubsidi sejak Januari 2022. Minyak dibeli dari seorang pelaku berinisial DW seharga Rp6.900 per L, kemudian BBM solar dijual seharga Rp9.000 per L.

Tak hanya di Aceh, Polda Jawa Barat membongkar aksi penimbunan BBM bersubsidi jenis solar. Sindikat penimbun mampu menyimpan solar hingga 22 ton liter.

Kasus itu terbongkar saat penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar yang termasuk tim satgas BBM menyelidiki kelangkaan BBM bersubsidi beberapa waktu lalu. Di saat itu, penyidik mendapati laporan adanya dugaan pembelian BBM subsidi tak wajar di Kabupaten Tasikmalaya dan Indramayu.

"TKP ada di Tasikmalaya dan di Indramayu," ucap Kabid Humas Polda Jabar Kombes Ibrahim Tompo di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Rabu (13/4/2022). Tujuh orang tersangka diamankan polisi. 

Lima orang merupakan sindikat Tasikmalaya. Sedangkan dua orang merupakan sindikat di Indramayu. Ia menuturkan, mereka melakukan pembelian BBM solar di SPBU. Solar masuk ke dalam mobil boks yang sudah dimodifikasi.

Solar kemudian ditampung di tempat penampungan raksasa yang ada di sebuah tempat berupa gubuk. Solar tersebut kemudian dijual untuk konsumsi industri.

"Disuplai ke penampungan dan dijual ke industri," imbuhnya. Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar Kombes Arief Rachman menjelaskan, para tersangka di dua TKP berbeda ini menggunakan modus yang sama. 

Mereka memodifikasi mobil bak tertutup yang didalamnya terdapat bak penampungan berbentuk kotak. Awalnya, kata dia, penyidik mendapati dua mobil tangki di Kabupaten Tasikmalaya. 

Dua mobil itu diawaki oleh dua sopir dan dua kernet. "Kami menemukan dua mobil bermuatan 8.000 liter kurang lebih 13,9 ton. Dengan kondisi tangki biru, semestinya dari SPBU. 

"Tapi dia dari pangkalan yang bentuknya bilik. Sangat dimungkinkan ada penyalahgunaan. Ternyata betul. Sehingga kami amankan," tuturnya.

"Jadi satu tangki colt dimodif bisa diisi 2.000 liter per sekali putar. Dia berpindah-pindah ke beberapa SPBU. Tanpa sadar, kami menyita total kurang lebih 22 ton dan kalau dikonversi, 25 ribu liter," ulasnya.

Arief menuturkan BBM yang ditimbun tersebut dijual lagi oleh sindikat tersebut ke industri. Adapun saat kondisi langka, BBM solar dijual dengan harga Rp9.000.

"Ada disparitas keuntungan. Ini jadi faktor penarik mereka melakukan ini. Kalau dikalkulasikan, kerugian negara Rp454 juta dalam waktu empat bulan," bebernya.

Satu lagi kasus, Polres Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, menggagalkan penyelundupan 2 ribu liter solar bersubsidi. Solar ini akan dijual, di atas harga eceran tertinggi.

Kasus penyelundupan solar terungkap atas laporan warga, terkait adanya distribusi BBM bersubsidi, tanpa disertai dokumen yang sah. Bermodalkan ciri-ciri kendaraan yang disebutkan warga, polisi menangkap dua pelaku penyeludupan, di dua lokasi berbeda di Kecamatan Bolaang.

Dari dua pelaku, total 2.375 liter solar ilegal, disita polisi. Bergeser ke Sumatera Selatan, kepolisian juga membongkar penimbunan solar subsidi di dua SPBU, yang berlokasi di kawasan Kertapati dan Plaju, Palembang.

Lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka, dengan dua di antaranya merupakan mahasiswa. Sebanyak 108 liter solar subsidi disita dari dua tersangka, dan 300 liter dari tiga tersangka.

Modus para pelaku adalah mengisi solar menggunakan mobil yang tangkinya sudah dimodifikasi hingga bermuatan 300 liter. Polisi kini masih menyelidiki, dugaan keterlibatan oknum pegawai SPBU dari penimbunan ini.

Atas perbuatannya, para tersangka terancam hukuman selama enam tahun penjara. Sementara itu, di tengah berbagai kenaikan harga, Presiden Jokowi menegur menterinya karena dianggap tidak menjelaskan dengan baik pada masyarakat, soal kenaikan harga pertamax dan minyak goreng.

Di hadapan seluruh Menteri yang hadir dalam rapat kabinet, Presiden bahkan menyebut pentingnya sense of crisis pada masyarakat. Kelangkaan bahan bakar terutama solar di beberapa daerah, tentunya menambah beban warga.

Padahal, saat ini, warga tengah berjuang mencukupi kebutuhannya di tengah kenaikan harga kebutuhan konsumsi rumah tangganya. Seperti gas, minyak goreng, dan barang kebutuhan pokok lainnya. (tim redaksi)

#penimbunansolar
#sindikatpenimbunsolar
#renanakenaikanhargasolar
#mobilmodifikasisolar
#bbm
#sindikatkejahatan

Tidak ada komentar