Breaking News

Krisis Ekonomi Sri Lanka Hancurkan Dunia Pariwisata dan Pemulihan Pasca-COVID-19

Keindahan salah satu wisata pantai di Sri Lanka yang kini tidak dikunjungi turis asing karena padamnya listrik di daerah tersebut. Foto: Kifezytle.com

WELFARE.id-Krisis keuangan telah menghancurkan perekonomian Sri Lanka. Bukan hanya pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat saja yang sulit didapat, tapi krisis keuangan yang berawal gagalnya pemerintah Sri Lanka membayar utang luar negeri juga menghancurkan pariwisata negara itu. 

Padahal, pariwisata bisa jadi salah satu andalan Sri Lanka untuk memulihkan perekonomian negara itu yang terpuruk akibat COVID-19 yang melanda dunia sejak dua tahun lalu. 

Salah satu pariwisata yang terdampak krisis ekonomi Sri Lanka adalah Kota Galle yang berlokasi di pantai selatan Sri Lanka. Daerah pantai berpasir dengan benteng kunonya, seharusnya kota itu telah dibanjiri wisatawan pada saat ini. 

Tapi, pemadaman listrik di daerah itu telah menjerumuskan Kota Galle ke dalam kegelapan, dan kawasan bersejarah itu sebagian besar kosong kecuali seorang turis yang menggunakan senter untuk menemukan jalan pulang ke hotel tempatnya menginap di sepanjang jalan yang gelap dan gulita. 

Ketika Sri Lanka tenggelam lebih dalam ke dalam krisis ekonomi terburuknya sejak kemerdekaan, harapan Kota Galle menjadi tujuan wisata yang booming telah pupus. Padahal, sebelum COVID-19 menyerang, Kota Galle menjadi salah satu primadona wisata di wilayah tersebut

Pemadaman listrik dan kekurangan makanan penting bagi wisatawan telah melanda negara pulau itu selama berminggu-minggu. Hal tersebut mendorong pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan dan menempatkan Presiden Gotabaya Rajapaksa di bawah tekanan yang meningkat untuk mengundurkan diri. 

Pada hari Selasa (19/4/2022), satu orang tewas dalam protes tersebut. Itu menjadi kematian pertama sejak demonstrasi dimulai bulan lalu menuntut pengunduran diri Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa yang pemerintahannya dituding korup hingga terjadinya krisis ekonomi tersebut. 

Untuk diketahui, pariwisata menghasilkan USD4,4 miliar dolar bagi Sri Lanka dan berkontribusi sebanyak 5,6 persen terhadap PDB pada 2018. Akan tetapi, ini turun menjadi hanya 0,8 persen pada 2020.

Kantor pariwisata Sri Lanka mencatat kedatangan 100.000 turis pada Maret lalu untuk pertama kalinya dalam dua tahun sedikit membangkitkan pariwisata di negara itu. Jumlah pariwisata tahun ini secara keseluruhan lebih tinggi daripada tahun 2021, menandai apa yang dianggap banyak orang sebagai kebangkitan ekonomi.

”Orang-orang protes. Jalan diblokir. (Wisatawan) perlu bepergian dan mereka membutuhkan bahan bakar untuk itu dan mereka tidak bisa menunggu dalam antrean," kata Samitha, yang bekerja sebagai eksekutif di sebuah hotel di Kota Galle

Pemilik restoran dan hotel di Galle juga pesimistis tentang kebangkitan ekonomi negara itu di tengah pandemic COVID-19. Saat ini Sri Lanka berebut sekitar USD3 miliar dolar untuk menjembatani keuangan dari berbagai sumber termasuk India, Tiongkok (China, Red) dan Bank Dunia untuk membayar impor penting kebutuhan pokok bagi warganya. 

Saat ini, Pemerintah Sri Lanka sedang merundingkan program dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mengatasi krisis valuta asingnya untuk membeli secara impor berbagai kebutuhan warganya. (tim redaksi)


#srilanka
#krisisekonomi
#krisiskeuangan
#demotuntutpresidenmundur
#pariwisata
#krisispolitik

Tidak ada komentar