Breaking News

Korban Begal Jadi Tersangka di Lombok Tengah, Kabareskrim: Harusnya Dilindungi!

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komjen Pol Agus Andrianto. Foto: Istimewa

WELFARE.id-Kasus korban begal yang dijadikan tersangka karena membela diri hingga menewaskan dua begal yang hendak merampas motor miliknya di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membuat banyak pihak angkat bicara. 

Termasuk, Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komjen Pol Agus Andrianto. Ia menilai pelaku pembunuhan dua begal itu tidak salah. Menurutnya juga, tindakan penghilangan dua nyawa tersebut, dilakukan oleh korban dalam kondisi terpaksa. 

Agus juga menyebut, korban begal yang ditetapkan tersangka di Polres Lombon Tengah yang bernama Amaq Sinta, 34, seharus mendapatkan perlindungan. Terlebih bila Amaq Sinta tidak memberikan perlawanan maka dirinya yang akan menjadi korban.

"Saya kira bila benar yang bersangkutan melakukan perlawanan atau pembelaan paksa, dalam artian bila tidak dilakukan bisa menjadi korban para pelaku, ya harus dilindungi," ujarnya, Jumat (15/4/2022).

Karena itu, Agus menyarankan kepada Kapolda NTB untuk melakukan gelar perkara kasus tersebut dengan mengundang pihak kejaksaan, tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

Agus menganggap para tokoh itu bisa dimintai pendapatnya untuk menentukan apakah peristiwa begal tersebut layak atau tidak untuk ditindak lanjuti penyelidikannya oleh kepolisian.

"Saran Saya kepada Kapolda NTB untuk mengundang gelar perkara yang terjadi dengan pihak kejaksaan, tokoh masyarakat dan tokoh agama di sana. Minta saran dan masukan layak tidak perkara ini dilakukan proses hukum. Legitimasi masyarakat menjadi dasar langkah yang harus dilakukan Polda NTB selanjutnya," paparnya juga. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Polres Lombok Tengah menetapkan korban begal, Amaq Sinta, 34, sebagai tersangka karena membuat dua begal yang hendak mengambil motornya terbunuh. Polisi juga telah mengamankan dua begal lainnya yang selamat dalam kejadian itu.

Namun karena kasusnya memicu perhatian publik, akhirnya Polda NTB mengambil alih kasus tersebut pada Kamis (14/4/2022). 

"Bahwa penanganan yang dilakukan di Polres Lombok Tengah sudah ditangani oleh Polda NTB, dilakukan oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) 
Polda NTB, " terang Kapolda NTB Irjen Pol Djoko Poerwanto, dalam siaran persnya, Kamis (14/4/2022). 

Djoko menyebut pengambilalihan perkara tersebut sebagai rangkaian tindakan penyidikan untuk membuka kasus tersebut secara terang benderang. Sehingga, penyidik bisa menentukan tersangka yang seharusnya.

”Beri kesempatan kami untuk membuat terang perkara pidananya dan menentukan tersangka dalam peristiwa tersebut dan akan kami sampaikan pada masyarakat," kata Djoko juga. 

Jenderal bintang dua itu juga menjelaskan, kasus yang sedang menjadi sorotan publik tersebut berawal dari informasi yang diterima Polres Lombok Tengah pada Minggu (10/4/2022) pukul 01.30 Wita.

Saat itu, Amaq Sinta, korban yang jadi tersangka, berkendara menggunakan sepeda motor berwarna merah. Tiba-tiba Amaq Sinta diadang oleh empat orang yang mengunakan dua buah sepeda motor.

Dua dari empat orang itu, yakni yang menggunakan sepeda motor warna hitam, mendekati Amaq Sinta. Keduanya memaksa Amaq Sinta menyerahkan motor yang digunakannya.

"Ketika diadang oleh OWP dan PE, AS (Amaq Sinta) melakukan pembelaan yang mengakibatkan OWP dan PE meninggal dunia di TKP akibat luka tusuk di tubuh keduanya, sementara HO dan WA melarikan diri," jelas Djoko.

Berdasarkan hasil visum terhadap OWP dan PE, ditemukan fakta bahwa terdapat luka tusuk. Sementara itu Amaq Sinta hanya mengalami luka memar di tangan sebelah kanan yang diduga diakibatkan oleh peristiwa pemaksaan untuk menyerahkan kendaraan. (tim redaksi)


#begal
#pembunuhan
#pembelaandiri
#polreslomboktengah
#poldantb
#kapoldantb
#irjendjokopoerwanto
#kabareskrim
#komjenpolagusandrianto

Tidak ada komentar