Breaking News

Kasus Korban Begal Jadi Tersangka, Guru Besar FHUI: Ini Pembelaan Diri!

Konferensi pers kasus pembunuhan akibat membela diri yang terjadi di Jalan Raya Desa Ganti, Praya Timur, Lombok Tengah, NTB. Foto: Polres Lombok Tengah

WELFARE.id-Kasus korban begal di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang jadi tersangka kasus pembunuhan karena membela diri membuat publik heran. Masyarakat bertanya-tanya tentang penanganan kasus itu oleh kepolisian.

Padahal korban bernama Amaq Sinta itu membunuh dua begal 
yang mencoba merampas harta bendanya. Tapi aksi membela diri itu tetap salah di mata hukum hingga polisi menetapkan Amaq Sinta sebagai tersangka. 

Untuk diketahui, pembelaan diri berujung dengan tewasnya dua begal di tangan Amaq Sinta itu terjadi di Jalan Raya Desa Ganti, Lombok Tengah, Provinsi NTB, Minggu (10/4/2022). Pada saat itu, Amaq Santi dihadang oleh empat orang begal.

Maka terjadi pengkelahian dengan menggunakan senjata tajam. Amaq Santi pun berhasil membunuh dua begal berinisial PN, 30, dan OWP, 21. Sedangkan dua begal lainnya kabur usai dua temannya tewas. 

Namun setelah kasus ini diselidiki oleh Reskrim Polres Lombok Tengah, Amaq Santi malah ditetapkan tersangka karena membunuh dua orang begal tersebut. Peristiwa korban begal yang jadi tersangka kasus pembunuhan ini lantas viral di media sosial, Kamis (14/4/2022).  

Sementara itu, Guru Besar Hukum Pidana Fakultas Hukum Indonesia (FHUI) Indriyanto Seno Adji mengatakan bahwa sebaiknya penegak hukum tidak melihat kejadian tersebut dari perspektif kepemilikan senjata tajam (sajam) dari korban. 

”Sebaiknya penegak hukum melihatnya tidak dari perspektif kekakuan legalistik positivistik kepemilikan sajam dari si korban. Sehingga si korban justru ditempatkan posisinya sebagai tersangka," terangnya, Kamis (14/4/2022). 

Pemahaman penegak hukum tersebut menurut Indriyanto terlalu kaku menyikapi peraturan yang tidak sesuai dengan kondisi hukum yang terjadi.

Menurutnya juga, penegak hukum harus melihat sebuah kasus dari sisi social and defence protection, sehingga tidak tepat jika korban begal dijadikan sebagai tersangka. 

"Sehingga hilang sifat melawan hukum pemilikan sajam si korban dan dari sisi asas keadilan si korban tidak layaknya diposisikan sebagai tersangka sesuai prinsip sifat melawan hukum materiel de fungsi negatif," jelasnya juga. 

Pembelaan diri walaupun sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan begal, si korban dapat hilang sifat melanggar hukumnya. Hal tersebut dikarenakan korban melakukan pembelaan diri. 

Sebaliknya, katanya juga, pihak penegak hukum seharusnya menetapkan begal sebagai tersangka sesungguhnya. "Justru penegak hukum yang harus menempatkan begal sesungguhnya atau real actor sebagai tersangka dan bukan menciptakan antitesis yang berkelebihan," tandasnya. (tim redaksi)

#begal
#pembelaandiri
#korbanjaditersangka
#polreslomboktengah
#poldantb
#provinsintb
#gurubesarhukumpidana 
#fakultashukumindonesia 
#indriyantosenoadji

Tidak ada komentar