Breaking News

Jangan Khawatir, Lansia dengan Komorbid juga Bisa Sembuh dari COVID-19

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Lansia dan yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) paling rentan terpapar COVID-19. Apalagi gejala umum, seperti batuk-batuk, sesak nafas, atau hilangnya indera penciuman dan perasa yang umumnya dialami pasien positif COVID-19 sama sekali tidak muncul pada Lansia dan komorbid yang terkonfirmasi positif. 

Lansia dan komorbid dinilai perlu perhatian khusus dengan monitoring lebih ketat karena gejalanya sangat khas. Gejala khas yang muncul pada pasien positif Lansia dan komorbid, seperti nafsu makan tiba-tiba hilang, terjadi perubahan perilaku yang tidak biasa, dan kesadaran hilang. Penyakit penyerta yang dialami semakin memperberat pasien Lansia. 

Oleh sebab itu, perhatian serta dukungan keluarga atau orang terdekat, terutama dalam menerapkan protokol kesehatan, dinilai sangat penting bagi Lansia dan komorbid untuk menghindari paparan Virus Corona atau COVID-19. 

Lingkungan yang bersih, makanan sehat, dan istirahat cukup harus diterapkan bagi Lansia dan komorbid. Jika Lansia tinggal bersama cucu dan pengasuhnya, maka harus diperhatikan protokol kesehatannya. Hal yang sama juga perlu dilakukan terhadap pengantar makanan jika memesannya dari luar. 

Rata-rata pasien Lansia dan komorbid yang terpapar COVID-19 merasa tersisihkan dari keluarga. Ruang isolasi atau tempat perawatan pasien COVID-19 memang tidak diperbolehkan dikunjungi keluarga. 

Namun, keberadaan perawat memberi dukungan penuh untuk kesembuhan pasien. Perawat membantu support system dan membantu komunikasi pasien dengan keluarga dengan memanfaatkan teknologi. 

Seperti yang dialami Azhar, seorang direktur di sebuah perusahaan swasta. Ia sempat dinyatakan positif covid-19 pada 22 Juli 2020 lalu. Dirinya sempat was-was. Pasalnya, Azhar menyadari bahwa ia merupakan kelompok lansia, ditambah memiliki penyakit diabetes dan hipertensi. 

''Awalnya saya merasa demam, badan lemas, malas gerak, dan tulang seperti keram-keram,'' ujarnya dalam Acara Bincang Penyintas Covid-19 dalam kanal Youtube Direktorat Promosi Kesehatan Kemenkes, dikutip Minggu (24/4/2022). 

Azhar menduga, dirinya tertular COVID-19 dari kerabatnya yang sakit dan sempat ia jenguk 5 hari sebelum dinyatakan positif COVID-19. ''Setelah dinyatakan positif, saya langsung masuk RS dan bergabung dengan satu kamar berdua dengan pasien lain. Pasien sebelah saya bilang, pak tenang-tenang saja. Kita bisa sembuh kalau kondisi kita tenang,'' urainya. 

Dari pesan itulah ia mendapatkan semangat untuk bisa sembuh dari COVID-19. Berbagai terapi dari rumah sakit ia ikuti dengan tertib. Mulai dari meminum obat dari dokter, hingga mengkonsumsi berbagai suplemen, mulai dari obat herbal, minyak ikan, vitamin D, dan vitamin E. 

''Pada minggu kedua gejala mulai berkurang. Batuk berkurang, demam sudah tidak ada. Lalu tes swab kedua dan ketiga negatif. Tepat 8 Agustus 2020, saya diperbolehkan pulang ke rumah,'' ucapnya. 

Dirinya bersyukur dapat lepas dari COVID-19, tanpa mengalami gejala berat. Selain itu, istrinya yang tinggal satu rumah dengannya pun dinyatakan negatif COVID-19. 

Dari pengalamannya tersebut, Azhar berpesan, dalam menghadapi COVID-19, yang terpenting adalah banyak-banyak berpikiran positif dan menerapkan pola hidup sehat. 

''Kita harus rutin olahraga, makan bergizi, istirahat cukup. Kita juga harus ikhlas, itu membuat kita lebih tenang. Di RS saya merasa tenang dan penuh dengan optimisme. Ridho kepada Allah,'' pungkasnya. (tim redaksi) 

#covid19
#komorbid
#lansia
#lansiasembuhdaricovid
#pikiranpositif
#kemenkes

Tidak ada komentar