Breaking News

Heboh Kasus Marshel, Bisakah Penikmat Video Dewasa Dipidana? Ini Kata Pakar!

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Di Indonesia, konten pornografi merupakan hal yang ilegal, makanya ada UU Antipronografi. Bagi warga negara Indonesia yang menyebarkan konten yang melanggar aturan itu, maka siap-siap berhadapan dengan hukum di sini. 

Pemerintah pun melakukan pemblokiran. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menangani 2,5 juta konten internet terlarang sejak Agustus 2018 hingga Juli 2021. Mayoritas adalah situs pornografi. Dari jumlah tersebut, 1,5 juta di antaranya berasal dari situs web. Situs pornografi menempati urutan pertama dengan 1,08 juta konten yang diblokir. Diikuti situs judi dengan 387 ribu konten dan situs penipuan dengan lebih dari 13 ribu konten. 

Bagi pengguna yang mengkases melalui IP Adrress dari Indonesia, maka dipastikan tidak akan bisa melihat konten-konten syur di OnlyFans.  

Namun masih ada banyak cara untuk mengaksesnya, semisal lewat VPN (virtual private netwroks). bagi mereka yang masih di bawah umur, dilarang untuk melihat konten dewasa.  

Nah, bagaimana jika sudah begini?. Pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar mengatakan, konten pornografi yang diunggah dan bisa diakses oleh publik, sekali pun berbayar seperti di situs Onlyfans dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. Misalnya saja konten kreator Gusti Ayu Dewanti alias Dea. ''Pornografi disebar dalam platform apa pun sepanjang itu bisa diakses publik sekali pun berbayar tetap dikategorikan sebagai tindak pidana pornografi,'' ujar Fickar. 

Menurut Fickar yang dilarang adalah transaksi jual beli konten video pornografi. Sehingga kepolisian memiliki kewenangan untuk memanggil dan menahan seseorang yang terlibat dalam transaksi tersebut. 

Dan juga menurutnya penikmat video dewasa bisa dipidana jika video tersebut disebarluaskan ke ruang publik. ''Kalau memang diketahui ada transaksi mengenai pornografi, kepolisian punya kewenangan untuk memanggil, bahkan dilihat undang-undangnya ancamannya lima tahun lebih, polisi punya kewenangan untuk menahan selain memanggil,'' tugasnya. 

''Artinya kalau ada orang yang dicurigai mengedarkan atau bahkan menikmati untuk diri sendiri kalau ketahuan bisa kena,'' tambahnya 

Larangan mengenai jual beli konten pornografi diatur dalam Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi. 

Pada pasal 4 ayat (1) UU Pornografi  dijelaskan bahwa "Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi " 

Lalu dalam pasal 5 ditegaskan "Setiap orang dilarang meminjamkan atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud pasal 4 ayat (1)" 

''Itu kan ada UU mengenai pornografi. Jadi karena itu diperdagangkan, konteksnya yang dilarang itu diperdagangkannya. Jadi tidak cukup yang diproses itu yang membeli, tapi juga yang menjualnya, karena yang dilarang itu transaksinya,'' katanya. 

Sementara itu, kuasa hukum dari Dea Onlyfans, Abdillah, mengklaim ada zona abu-abu dalam kasus yang menjerat kliennya itu lantaran situs Onlyfans tidak bisa diakses menggunakan server Indonesia. ''Jadi pada intinya kita tidak mengelak, cuma kita menggaris bawahi ada zona abu-abu itu besar terkait dengan Onlyfans itu sendiri,'' dalihnya. 

Menurutnya, Onlyfans bersifat privat. Artinya, situs tersebut tak bisa diakses oleh semua orang. ''Jadi kalau konteks publik itu sendiri kalau menurut kami, publik itu bisa diakses dan dikonsumsi sama khalayak umum tanpa terkecuali. Sedangkan Onlyfans itu nggak, Onlyfans hanya beberapa orang saja yang bisa mengakses dan sifatnya tertutup,'' lanjutnya. 

Atas dasar ini, Abdillah meminta kepada pemerintah, khususnya Kominfo, agar lebih tegas dalam menangani pornografi di berbagai situs. ''Jangan sampai ada Dea-Dea yang lain yang jadi korban atas keabu-abuan atas permasalahan terkait Onlyfans itu sendiri, mengingat onlyfans itu sendiri tidak diatur, tidak diakui dan servernya juga nggak ada di Indonesia,'' imbuhnya. (tim redaksi) 

#kontenpornografi
#onlyfans
#deaonlyfans
#uuantipornografi

Tidak ada komentar