Breaking News

Gammaraas, Salah Satu Obat Corona untuk Penderita COVID-19

Contoh obat Gammaraas yang merupakan salah satu terapi COVID-19. Foto: Net

WELFARE.id-Hingga kini, penularan kasus Corona di Tanah Air sudah mulai melandai. Penyebabnya karena nyaris 95,48 persen atau berjumlah 198.852.236 untuk dosis pertama dan 78,70 persen atau berjumlah 163.897.956 orang dan vaksin booster atau ketiga berjumlah 3,5 juta orang. 

Selain vaksinasi, berbagai obat anti-Corona juga diimpor oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk pasien COVID-19. Saat ini, salah satu obat Coroan yang digunakan adalah gammaraas. Sejak 2021, sebanyak 30 ribu vial (1 vial 50 ml) gammaraas telah tiba di Indonesia.

Tapi apa sebetulnya obat gammaraas itu?

Obat virus Corona bernama Gammaraas sempat ramai diperbincangkan karena harganya yang relatif mahal. Jika melihat e-commerce, rata-rata harga gammaraas satu vial berkisar Rp3,5 juta-Rp4,5 juta. 

Sementara bisa dibutuhkan lebih dari satu vial gammaraas untuk terapi obat pasien Covid-19. Namun obat ini harus menggunakan resep dokter dan tidak boleh digunakan sembarangan. 

Obat ini mengandung plasma Imunoglobulin dalam bentuk larutan steril untuk injeksi. Tiap vialnya mengandung Imunoglobulin Human intravena 5 persen. Obat ini bukanlah obat baru, sebelum digunakan sebagai obat terapi COVID-19, obat ini digunakan sebagai obat dengan indikasi Imunodefisiensi primer dan sekunder, ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura), dan Sindrom Kawasaki.

Konsultan penyakit tropik dan infeksi RSCM, dokter Erni Juwita Nelwan mengatakan, Gammaraas merupakan terapi obat tambahan untuk pasien COVID-19. Pemberian Gammaraas termasuk dalam terapi intravenous immunoglobulin (IVIG) yang ditujukan pada pasien COVID-19 bergejala berat-kritis. 

Kandungan IVIG ini sudah diizinkan WHO untuk terapi COVID-19 gejala berat-kritis. Penelitian mengenai penggunaan obat ini masih terus dilangsungkan.

Umumnya, terapi IVIG diberikan untuk mengobati kekurangan antibodi, mencegah respon penolakan tubuh terhadap transplantasi organ, dan mengobati penyakit autoimun. Pada kasus Covid-19, terapi obat tambahan dengan IVIG bertujuan untuk menambah antibodi atau kekebalan tubuh secara langsung pada tubuh pasien COVID-19.

Obat ini akan diberikan langsung secara injeksi melalui infus pasien COVID-19. Tujuannya agar ada antibodi tambahan untuk melawan virus SARS-CoV-2.

”Gammaraas merupakan produk turunan plasma yang dapat memberikan kekebalan pasif terhadap berbagai patogen. Pemberian gammaraas bertujuan agar pasien memiliki antibodi untuk menangani infeksi di tubuh," kata Erni juga. 

Pemberian obat ini hanya untuk pasien bergejala berat-kritis. Namun perlu diingat bahwa Gammaraas adalah salah satu pilihan terapi tambahan pasien COVID-19. Artinya, tidak semua pasien COVID-19 bergejala berat-kritis menggunakan terapi obat tersebut.

Sejauh ini obat Gammaraas baru bisa bermanfaat jika diberikan segera ketika pasien menuju pada perburukan, bukan saat perburukan itu terjadi. Dokter penanggung jawab akan mempertimbangkan terapi tambahan menggunakan gammaraas dengan melihat kondisi klinis pasien COVID-19.

Selain itu Erna juga mengatakan, pemberian Gammaraas belum terbukti menyembuhkan Covid-19. ”Belum terbukti secara pasti apakah pemberian Gammaraas bisa mengurangi risiko perburukan. Sejauh ini hanya ada laporan kasus dan satu uji klinis dengan pasien yang sedikit," papar Erna juga.

Selain itu, Gammaraas juga punya efek samping berupa sakit kepala, demam, mual, muntah, nyeri otot atau nyeri sendi, kulit menjadi merah (flushing), detak jantung cepat (takikardia), dan rasa sakit pada area yang disuntik.

Terapi obat ini juga tidak disarankan untuk pasien COVID-19 dengan komorbid seperti diabetes, hipertensi, gagal ginjal, penyakit jantung, serta pembekuan darah. Dosis penggunaan Gammaraas juga akan ditentukan oleh dokter. Dosis serta lama penggunaannya bergantung pada berat badan pasien, kondisi klinis, dan penyakit penyerta. 

”Tapi perlu diingat, kalau Gammaraas tidak masuk pedoman tatalaksana pengobatan COVID-19, pemberiannya hanya ditujukan sebagai pengobatan tambahan di bawah pengawasan dokter," tutur Erna juga. (tim redaksi)

#penularancorona
#pencegahancovid19
#obatcorona
#gammaraas
#vaksinasicorona
#prokes
#protokolkesehatan
#konsultanpenyakittropikdaninfeksi
#rscm
#drernijuwitanelwan

Tidak ada komentar