Breaking News

Cegah Kejahatan Remaja saat Ramadan, Berikut Rekomendasi IPW kepada Polri

Ilustrasi tawuran yang dilakukan remaja di Kabupaten Bekasi saat menjelang berbuka puasa. Foto: Istimewa 

WELFARE.id-Berbagai aksi kejahatan remaja kerap terjadi selama Ramadan. Paling sering terjadi adalah aksi tawuran yang dilakukan para remaja pada saat sahur dan waktu berbuka puasa. 

Karena itu, Indonesia Police Watch (IPW) mendesak kepolisian konsisten membasmi aksi tawuran, klitih dan begal yang terus muncul di masyarakat dengan pelaku remaja atau pelajar pada saat Ramadan. 

Sebab tidak jarang pelaku melukai korbannya dengan senjata tajam hingga mengalami luka berat dan bahkan meninggal dunia. Aksi yang dilakukan para remaja ini saat Ramadan juga membuat takut masyarakat. 

Adapun rekomendasi IPW itu adalah, Pertama meminta kekerasan oleh anak-anak remaja di bawah 18 tahun yang mengancam jiwa harus ditindak tegas oleh Polri dengan berpegang proses hukumnya melalui Undang-Undang Peradilan Anak. 

Kedua, apabila menggunakan sajam harus diterapkan pasal berlapis selain penganiayaan berat, pasal 351 atau pasal 170.  

"Bahkan dapat juga diterapkan pasal Undang-Undang Darurat agar menimbulkan efek jera bagi pelaku," terang Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso, Sabtu (9/4/2022). 

Ketiga, IPW menganjurkan proses diversi tetap diberlakukan sesuai dengan UU Peradilan Anak. Sedangkan untuk anak-anak di atas 12 tahun tetap diproses hukum. Keempat, Polri harus tegas mengedepankan profesionalisme dalam penanganan pidana yang menyimpang dilakukan oleh para remaja tersebut.  

"Kelima, untuk penanganan  klitih bukan hanya tanggung jawab Polri saja, melainkan terkait orang tua yang berada di hulu. Kemudian sekolah, tokoh masyarakat dan tokoh agama sebagai upaya pencegahan, di samping perlunya pendidikan budi pekerti," ujar Sugeng juga.  

Keenam, dalam mengatasi klitih, begal, tawuran antargeng remaja tersebut, IPW mendorong fungsi intelkam dan binmas dikedepankan dengan melakukan mitigasi potensi munculnya kekekrasan laten dikalangan anak remaja. 

IPW juga menyarankan anggota Polri masuk pada grup-grup whatsapp (WA) mereka, mengidentifikasi aktor-aktor kunci kekerasan yang menjadi provokator serta mendeteksi lokasi2 yg menjadi tempat mereka tawuran.  

"Ketujuh, patroli polisi yang menyasar kumpulan-kumpulan anak remaja tanpa kepentingan jelas harus diintensifkan dan dibubarkan karena pengkonsentrasian massa anak-anak remaja atau dalam bentuk bergerombol adalah potensi menimbulkan chaos," papar Sugeng juga.  

Dengan ketujuh langkah tersebut, IPW optimis perilaku-perilaku menyimpang para remaja di jalanan dapat dikendalikan dan angka kejadiannya bisa diturunkan sampai akhir 2022. Sebab IPW khawatir kejadian klitih di Polda DIY jumlahnya meningkat bila dibandingkan dengan  2020. 

"Pada 2021 terjadi 58 kasus klitih dengan 40 kasus terungkap dan 102 orang ditangkap. Sementara, tahun 2020 tercatat ada 52 laporan tentang klitih dengan 38 kasus terungkap dan 91 orang ditetapkan sebagai tersangka," tandas Sugeng lagi. (tim redaksi)


#kejahatanremaja
#selamaramadan
#klitih
#tawuran
#begal
#indonesiapolicewatch
#ipw
#ketuaipw
#sugengteguhsantoso

Tidak ada komentar