Breaking News

Panik, Warga Rusia Rush Money

Ilustrasi antrean warga lokal Rusia di depan ATM. DOK WELFARE.id

WELFARE.id - Sanksi yang diberikan Amerika Serikat (AS) dan Negara Barat lainnya ke Rusia mulai menunjukkan dampaknya. Kepercayaan rakyat terhadap sistem keuangan Rusia runtuh. 

Mengutip Reuters, warga Rusia mengantre panjang di depan mesin ATM untuk menarik seluruh uang mereka di bank karena khawatir nantinya sanksi bakal membuat uang tunai bakal menjadi barang langka. Seluruh mesin ATM di Rusia diserbu warga setempat, setelah negara itu dijatuhi banyak sanksi ekonomi. 

Masyarakat takut bank akan membatasi penarikan tunai atau perbankan akan menghentikan layanan kartu kredit sepenuhnya. Warga Rusia juga mencoba menukar rubel dengan mata uang asing. 

Namun mata uang asing atau valas sudah habis. ''Saya sudah mengantre selama satu jam, tetapi mata uang asing hilang di mana-mana, hanya rubel,'' kata Vladimir yang merupakan warga Moskow, dikutip Rabu (2/3/2022). 

Warga Moskow lainnya mengatakan, orang-orang berlari menuju ATM agar mendapat antrean depan dan tidak kehabisan uang tunai. ''Bank run (atau dikenal di Indonesia dengan istilah bank rush, bank 'diserbu' oleh nasabah yang ingin menarik semua dana) di Rusia sudah dimulai. Inflasi bakal melonjak. 

Sistem perbankan Rusia sangat mungkin menghadap masalah besar,'' ujar Jeffrey Halley, Senior Market Analyst di OANDA. 

AS dan sekutu juga mengeluarkan beberapa bank Rusia dari jejaring informasi perbankan internasional yang dikenal sebagai SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication), yakni semacam platform jejaring sosial bagi bank. 

Kemudian bank sentral Rusia juga dibekukan cadangan devisanya di luar negeri. Cadangan devisa Rusia saat ini sebesar USD643 miliar, yang sebagian besar ditempatkan di bank sentral AS, Eropa dan Tiongkok dengan estimasi sekitar USD492 miliar, melansir Forbes. 

Pembekuan aset tersebut membuat bank sentral Rusia tidak bisa menggunakan cadangan devisanya, guna menstabilkan nilai tukar rubel. Alhasil, nilai tukar rubel sempat jeblok hingga lebih dari 30 persen di awal pekan ini, ke atas RUB 110/USD. 

Rush money tersebut dan aksi beli dolar AS membuat nilai tukar rubel kembali sempat jeblok lagi lebih dari 15 persen ke RUB 117/USD yang lagi-lagi menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah. 

Bank Sentral Rusia telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 20 persen, dari sebelumnya 9,5 persen. Hal itu dilakukan untuk menopang rubel dan mencegah keruntuhan total sistem keuangan. Otoritas terkait juga menghentikan perdagangan di Bursa Efek Moskow pada Senin (28/2/2022).  

Sebelum Rusia melakukan serangan ke Ukraina pada Kamis (24//2/2022) lalu, manager investasi di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang ternyata meningkatkan posisi uang tunai (cash) mereka dengan cukup signifikan. 

Hasil survei yang dilakukan Reuters pada periode 14 - 28 Februari menunjukkan 35 manajer investasi menaikkan alokasi cash mereka menjadi 4,3 persen, menjadi yang tertinggi sejak Desember 2020. Mayoritas survei tersebut selesai dilakukan sebelum 24 Februari saat invasi Rusia dimulai. 

Selain itu, pada manajer investasi tersebut menurunkan alokasi saham dalam portofolionya menjadi 49,5 persen dari sebelumnya 50,1 persen. Alokasi tersebut menjadi yang terendah sejak Mei 2021. 

Menurut Reuters tingginya inflasi menjadi pemicu para manajer investasi mengambil sikap defensif dengan meningkatkan alokasi cash sebagai buffer. 

Fenomena "penumpukan" cash pernah terjadi saat awal pandemi penyakit virus corona (COVID-19). Saat itu hingga muncul istilah "Cash is The King", tetapi bukan sembarang cash, hanya dolar AS. (cr2)

#rushmoney
#rusia
#ukraina
#investasi
#covid19
#perangdingin

Tidak ada komentar