Breaking News

LPG Non Subsidi Naik, Dikhawatirkan Pengusaha Kuliner Beralih ke Tabung Melon

Ilustrasi LPG 12 kilogram. DOK WELFARE.id

WELFARE.id - Mulai 27 Februari 2022, pemerintah menaikan harga gas LPG non subsidi. Dengan penyesuaian harga itu, harga LPG non subsidi yang berlaku saat ini adalah Rp15.500 per kilogram. 

Dengan kenaikan ini, terhitung dari November 2021 hingga Februari 2022, telah terjadi tiga kali kenaikan harga. Pada November 2021 harga LPG non subsidi Rp11.500,- per kilogram. Pada Desember 2021, harganya kembali naik, menjadi Rp13.500 per kilogram. 

Bukan saja berdampak pada penjualan di agen gas, namun juga pelaku usaha, terutama kuliner. Ketua Komunitas Warteg Nusantara, Mukroni mengatakan, naiknya harga gas 12 kilogram membuat pengusaha warteg harus memutar otak dengan tujuan demi mendapat keuntungan. 

Salah satu yang belakangan dilakukan beberapa pengusaha warteg yakni beralih dari gas 12 kilogram ke gas 3 kilogram atau melon. ''Kena imbas, gas yang 12 kilogram mahal, warteg lebih ke gas yang 3 kilogram,'' katanya. 

Meski menjadi salah satu solusi sementara, namun penggunaan gas melon itu bagaikan makan buah simalakama bagi para pengusaha warteg. Penggunaan yang banyak dikhawatirkan membuat gas melon yang merupakan subsidi dari pemerintah menjadi langka. ''Mudah-mudahan itu tidak terjadi. Itu yang warteg takutkan langkanya gas 3 kilogram,'' tambahnya. 

Kenaikan itu juga dirasakan pengusaha Katering di Banjarbaru, Kalsel. Mereka kebingungan dengan biaya produksi yang kini membengkak seiring dengan kenaikan LPG non subsidi. Yana Owner Yana Snack  mengaku bingung  ''Kami mau mengecilkan ukuran kue juga tidak mungkin. Mengurangi kualitas kue tidak mungkin juga. Karena harga kue ini sudah kompetitif. per Biji Rp400. Jadi kalau naik orang bakal menjauh tak membeli,'' tukasnya. 

Dia meminta pemerintah juga memikirkan solusi kenaikan harga ini karena jika seperti ini UMKM akan kesulitan. ''Saya tadinya punya sembilan anak buah. Tapi karena Pandemi, dikurangi kini hanya enam orang saja. Masak ini mau memberhentikan karyawan lagi?,'' katanya. 

Dia bercerita, sempat ada keinginan mau ganti ke gas 3 Kilogram. ''Tapi nggak bisa karena di Banjarbaru sudah gunakan kartu kendali. Jadi pembeli ya itu adalah mereka yang sudah terdaftar di kartu kendali,'' katanya. 

Terpisah, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menilai kenaikan harga LPG non subsidi oleh Pertamina berpotensi mendorong banyak konsumen untuk beralih menggunakan LPG subsidi, yakni LPG 3 kg alias LPG gas melon. ''Ini  hal logis, karena gas melon disubsidi  harganya beda jauh, sementara kualitasnya sama. Siapapun akan memilih yang murah,'' ujarnya. 

Efek lainnya, lanjut Tulus, kenaikan harga LPG non subsidi oleh Pertamina juga berpotensi mendorong praktik pengoplosan dan bisa menimbulkan risiko keamanan. Saran Tulus, disparitas harga antara LPG subsidi dan LPG non subsidi sebaiknya diperkecil untuk mencegah risiko-risiko ini. ''Selain itu gas elpiji 3 kg distribusinya harus dijadikan tertutup, tidak terbuka seperti sekarang,'' pungkasnya. (cr2)

#tabunglangka
#lpg
#tabungmelon
#hargatabunglpgnaik
#ekonomi
#pengusaha

Tidak ada komentar