Breaking News

Hong Kong Mencekam, Warga Dihantui Rencana Tes Massal hingga Kemungkinan Lockdown Total

Hong Kong menghadapi gelombang kelima COVID-19, pasien berdatangan ke rumah sakit. Foto: AFP

WELFARE.id-Hong Kong kembali dilanda pandemi COVID-19. Para pakar menyebut, Hong Kong tengah menghadapi gelombang kelima pandemi. Kenaikan kasus kematian COVID-19 kembali terjadi di Hong Kong. Ini membuat wilayah itu mulai kewalahan menangani jenazah.

Bahkan, okupansi kamar mayat di wilayah administratif Tiongkok itu telah mencapai level maksimal dalam dua minggu terakhir. Melansir cnbc.com, Kamis (3/3/2022), otoritas kesehatan Hong Kong mengatakan bahwa selain jumlah pasien meninggal akibat COVID-19 yang tinggi, kota itu juga mengalami kenaikan angka kematian yang disebabkan komplikasi serius pasca cuaca dingin. 

"Ruang penyimpanan di kamar mayat rumah sakit telah mencapai kapasitas penuh," kata Kepala Asosisasi Dokter Umum Kota Tony Ling, melansir Reuters, Kamis, (3/3/2022). Puluhan mayat lain yang bukan pasien COVID-19 masih harus menunggu untuk diangkut ke kamar mayat.

Menurut statistik, ada 600 kematian terkait COVID-19 sejak virus itu masuk ke Hong Kong. Pihak berwenang mengatakan mayoritas kematian berada di kelompok yang belum divaksinasi. 

Banyak yang ragu untuk disuntik karena takut efek samping dan berpuas diri karena keberhasilan kota dalam mengendalikan virus pada 2021. "Sekitar 600 pusat perawatan lansia dan disabilitas telah terinfeksi selama sebulan terakhir," kata pihak berwenang.

Akibat lonjakan kematian pasien COVID-19 dan adanya rencana tes Covid massal, masyarakat pun menjadi panik. Mereka melakukan panic buying.

Seluruh supermarket diborong warga. Rak-rak di supermarket dalam sekejap kosong.

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengatakan, keputusan penguncian total belum akan diambil di wilayah pimpinannya. Dalam wawancara dengan radio Hong Kong, RTHK, Lam mengatakan masih memantau situasi.

"Warga tidak perlu khawatir karena belum ada keputusan lockdown dan pemerintah masih mengkaji situasi," ujarnya. Media lokal melaporkan, tes COVID-19 wajib yang akan dimulai setelah 17 Maret memicu kekhawatiran banyak orang, mereka akan dipaksa untuk melakukan isolasi mandiri dan anggota keluarga dengan hasil tes positif akan dipisahkan.

Lam mengimbau masyarakat "untuk tidak menjadi mangsa rumor untuk menghindari ketakutan yang tidak perlu digoreng." Dia menegaskan, pasokan makanan dan barang tetap normal.

Melansir DW Indonesia, Lam meminta warga Hong Kong bisa memilah informasi yang fakta dan hoax. "Waspada boleh, tapi harap hanya memperhatikan informasi yang disebarluaskan oleh pemerintah agar tidak disesatkan oleh rumor yang tidak benar," tegasnya.

Otoritas Hong Kong berencana untuk menguji 7,4 juta orang di sana sebanyak tiga kali selama sembilan hari. Pemerintah merekomendasikan agar orang-orang agar tetap tinggal di rumah selama periode tes COVID-19 tersebut. Pengecualian akan dibuat bagi mereka yang membeli makanan, mencari perawatan medis dan melakukan kegiatan sosial. (tim redaksi)

#covid19
#covid19dihongkong
#gelombangkelima
#pandemicovid19
#panicbuying
#kematianmeningkat
#kamarjenazahpenuh
#rencanatescovidmassal
#rencanalockdown

Tidak ada komentar