Breaking News

Februari BPS Catat Deflasi, Ini Kata Bank Indonesia

Ilustrasi BPS. DOK WELFARE.id

WELFARE.id - Terjadi penurunan harga (deflasi) pada bulan Februari 2022. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, deflasi pada bulan laporan sebesar 0,02 Persen. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan, sebagian besar kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dipantau BPS nampak mengalami penurunan harga. 

''Dari 90 kota IHK, 53 kota mengalami deflasi dan 37 kota mengalami inflasi,'' ujarnya dalam paparan terkait inflasi Februari 2022, dikutip Rabu (2/3/2022). 

Setianto merinci, deflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan dengan deflasi sebesar 2,08 persen. Komoditas yang menyebabkan deflasi di Tanjung Pandan adalah ikan krizi dengan andil 0,58 persen, ikan selar dan ikan tude dengan andil masing-masing 0,40 persen, serta minyak goreng dengan andil 0,26 persen.  

Sedangkan deflasi terendah terjadi di kota Palembang, Palangkaraya, dan Tarakan yang masing-masing mengalami deflasi sebesar 0,01 persen. Sebaliknya, inflasi tertinggi terjadi di kota Kupang dengan inflasi sebesar 0,65 persen. Komoditas yang memberi andil inflasi tertinggi adalah ikan kembung dengan andil 0,17 persen, kangkung dengan andil 0,15 persen, serta sawi hijau dengan andil 0,10 persen.  

Sementara inflasi terendah terjadi di kota Tanjung Selor dengan inflasi sebesar 0,01 persen. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menyampaikan bahwa perkembangan deflasi tersebut disebabkan oleh deflasi pada kelompok volatile food, serta penurunan inflasi inti dan kelompok administered prices. Secara tahunan, tingkat inflasi pada Februari 2022 tercatat mencapai 2,06 persen (year-on-year/yoy). 

''Ke depan, BI tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna menjaga inflasi sesuai dengan kisaran targetnya, yaitu 3,0±1 persen pada 2022,'' katanya. 

Kelompok volatile food atau harga bergejolak pada Februari 2022 mencatat deflasi sebesar 1,50 persen mtm. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh deflasi komoditas minyak goreng, telur ayam ras, dan daging ayam ras, seiring dengan implementasi kebijakan pemerintah terkait Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng dan peningkatan produksi. 

Kelompok administered prices pada Februari 2022 pun mencatatkan inflasi 0,18 persen mtm, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,38 persen mtm. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh deflasi angkutan udara seiring penurunan mobilitas udara. Sementara itu, tingkat inflasi inti pada Februari 2022 tercatat mencapai 0,31 persen mtm, menurun dari inflasi pada Januari 2022 sebesar 0,42 persen. 

Penurunan inflasi inti tersebut, kata dia, sejalan dengan melandainya mobilitas masyarakat. Berdasarkan komoditas, penurunan inflasi inti terutama disumbang oleh komoditas sewa rumah dan mobil. Adapun secara tahunan, inflasi inti Februari 2022 tercatat sebesar 2,03 persen yoy, meningkat dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,84 persen yoy. BI memandang, inflasi inti tetap rendah di tengah permintaan domestik yang mulai meningkat, stabilitas nilai tukar yang terjaga, dan konsistensi kebijakan BI dalam mengarahkan ekspektasi inflasi. 

Terpisah, Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman kembali menegaskan bahwa tren inflasi ke depan akan cenderung meningkat. ''Kami meyakini tekanan inflasi tarikan permintaan atau demand pull inflation akan terus berlanjut di tengah membaiknya permintaan, seiring dengan pemulihan ekonomi domestik,'' imbuhnya. 

Sementara itu, dia memprediksi mobilitas publik akan tetap meningkat meski ada tekanan sementara dari varian Omicron. Tekanan dari sisi penawaran atau cost-push inflation juga cenderung meningkat karena inflasi Indeks Harga Produsen (IHP) dan Indeks Harga Grosir sudah berada di atas inflasi IHK.   

Tekanan kenaikan lainnya terhadap inflasi 2022 adalah kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen. Normalisasi harga yang diatur, termasuk kenaikan biaya transportasi umum, cukai tembakau, dan harga energi seperti harga LPG non-subsidi juga turut berpengaruh pada kinerja inflasi tahun ini. 

Mengenai konflik geopolitik baru-baru ini antara Ukraina dan Rusia, Faisal mengatakan hal tersebut juga dapat memperpanjang kenaikan harga komoditas global, memberikan tekanan lebih lanjut pada harga energi dan bahan bakar Indonesia, serta dapat memperkuat harga emas. 

Secara keseluruhan, Faisal masih memperkirakan inflasi 2022 akan menguat menjadi 3,30 persen, dibanding tahun 2021 yaitu 1,87 persen. Selain itu, angka perkiraan tetap dalam kisaran target inflasi 2022 Bank Indonesia (BI). 

Menurutnya, hal ini dapat mendukung agenda BI untuk tidak terburu-buru dalam menaikkan suku bunga kebijakan pada tahun 2022 di tengah kebutuhan untuk menjaga stabilitas dengan latar belakang normalisasi moneter global. (cr2)

#bankindonesia
#deflasi
#inflasi
#moneter
#bps
#badanpusatstatistik

Tidak ada komentar